Investor Lirik Luar Pulau Jawa, Maluku Jadi Incaran

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Sabtu 24 Oktober 2020 11:04 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 24 320 2298813 investor-lirik-luar-pulau-jawa-maluku-jadi-incaran-T81ct8xfFI.jpg Investasi (Shutterstock)

JAKARTA - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat penyebaran investasi luar Jawa semakin meningkat sepanjang Januari-September 2020. Peningkatan Investasi ini berupa pembangunan infrastruktur yang didorong oleh Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di sejumlah wilayah di Indonesia.

Di mana, provinsi Jawa Barat merupakan lokasi dengan total realisasi investasi terbesar pada kuartal III 2020 yaitu sebesar Rp28,4 triliun atau mencapai 13,6%.

 Baca juga: Serapan Tenaga Kerja Masih Kecil, Bahlil: Enggak Gampang Bos

“Para investor, baik dalam negeri maupun luar negeri, tidak lagi hanya fokus di Jawa, tetapi juga luar Jawa. Syarat investor masuk, salah satunya tersedianya infrastruktur dan bahan baku. Bagus sekali ini ekspansi para investor di luar Jawa,” ujar Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, dalam siaran pers, Jakarta, Sabtu (24/10/2020).

Selain Jawa Barat, daerah lain yang menjadi daya tarik bagi Penanaman Modal Asing (PMA) adalah Maluku Utara. Di mana, saat ini sedang ada pembangunan hilirisasi nikel di kawasan tersebut.

 Baca juga: Investasi Kuartal III Capai Rp209 Triliun, Tanda Ekonomi Pulih?

Hal ini menunjukkan bahwa pemerataan investasi berkualitas tidak hanya dilakukan oleh pelaku usaha asing, namun juga pengusaha dalam negeri yang sama-sama membutuhkan dukungan pemerintah.

Karena itu, kata Bahlil, pemerintah akan terus mendorong bagaimana investasi dapat berdampak positif bagi daerah. Semakin besar investasi yang didorong, maka semakin banyak lapangan kerja yang tersedia, baik untuk tenaga kerja langsung maupun tidak langsung.

Pemerintah juga menargetkan pada 2021 minimal 1,3 juta lapangan kerja akan tersedia. Target itu seiring dengan penerapan Undang-Undang (UU) Cipta Kerja yang digadang sebagai jurus pemerintah menarik investasi. Meski begitu, jumlah tersebut hanya bertambah 100.000 atau tumbuh 8,3 persen dibanding target penyerapan tenaga kerja 2020 sebanyak 1,2 juta.

"Data yang dilansir BKPM hanya untuk tenaga kerja langsung. Tenaga kerja tidak langsung bisa 3-4 kali lipatnya, karena adanya multiplier effects yang besar dari rantai suplainya. Dalam Undang-Undang Cipta Kerja (UU CK) itu dijelaskan adanya kewajiban bagi perusahaan besar, baik nasional maupun asing, untuk ber-partner dengan pengusaha lokal daerah maupun Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memenuhi syarat," kata dia.

Berdasarkan data BKPM, pada periode kuartal III tahun ini, Singapura masih menjadi negara asal dengan investasi terbesar yaitu mencapai USD2,5 miliar atau sebesar 33,8%. Diikuti oleh Tiongkok sebesar USD1,1 miliar atau 14,9%, Jepang sebesar USD0,9 miliar atau 12,2%, Hong Kong capai USD0,7 miliar atau 9,5%, dan Belanda sebesar USD0,5 miliar atau setara 6,7%.

"Masuknya Belanda ke dalam daftar 5 teratas negara asal investasi ini, menandakan diversifikasi investor di luar wilayah Asia masuk ke Indonesia. Ini menarik juga. Belanda ini merupakan negara hub juga, sama dengan Singapura. Walaupun perekonomian Eropa sedang defisit, tetapi gairah mereka untuk investasi masih besar. Ini terkait dengan trust, regulasi, dan persepsi pemerintah yang sudah mulai baik,” kata Bahlil.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini