Menuju Produsen Halal Dunia, Ma'ruf Amin: Harus Lakukan Substitusi Impor

Taufik Fajar, Jurnalis · Sabtu 24 Oktober 2020 18:06 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 24 320 2298923 menuju-produsen-halal-dunia-ma-ruf-amin-harus-lakukan-substitusi-impor-RktVAhf8TQ.jpg Maruf Amin (Okezone)

JAKARTA - Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengungkapkan dalam upaya menuju Indonesia sebagai pusat produsen produk halal dunia adalah dengan melakukan program substitusi impor dan mendorong perkembangan industri bahan substantif material halal pengganti (substitusi material non halal). Hal tersebut penting dilakukan untuk mengurangi nilai impor atas produk halal dari negara lain.

"Kemandirian atas material halal substitusi sebagai pengganti bahan non-halal itu, juga akan mendorong berkembangnya industri UMKM Indonesia yang saat ini merupakan pemasok bahan baku industri," ujar dia dalam acara webinar strategis nasional 'Indonesia Menuju Pusat Produsen Halal Dunia', Sabtu (24/10/2020).

 Baca juga: 10 Produk Halal Diekspor, Paling Laris Mentega

Dia juga menegaskan perlunya dilakukan upaya untuk meningkatkan kapasitas UMKM agar dapat mendukung Indonesia menjadi produsen halal terbesar di dunia.

"Pelaku usaha syariah skala mikro dan kecil, perlu didorong agar menjadi bagian dari rantai nilai industri halal global (Global Halal Value Chain) untuk memacu pertumbuhan usaha dan peningkatan ketahanan ekonomi umat," ungkap dia.

 Baca juga: Wapres: RI Harus Jadi Eksportir Produk Halal Terbesar Dunia

Sebelumnya, Menteri Keuangan yang juga sekaligus Sekretaris KNEKS Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa ekonomi syariah dipandang mampu menjadi sumber pertumbuhan baru ekonomi nasional, serta mampu menjawab berbagai tantangan di dalam dinamika perekonomian nasional. Terlebih dalam kondisi ekonomi yang tertekan seperti sekarang ini karena dampak pandemi Covid-19.

"Keunikan yang dimiliki sistem ekonomi syariah terletak pada nilai-nilai yang sejalan dengan kearifan lokal masyarakat Indonesia, antara lain seperti kejujuran, keadilan, tolong menolong, profesional, serta keberpihakan pada kelompok lemah, diyakini dapat mempercepat pemulihan ekonomi nasional," tandas dia.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini