JAKARTA - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) akan mempersiapkan dengan matang untuk pemulihan ekonomi Indonesia pada kuartal keempat. Hal ini dikarenakan kuartal ketiga Indonesia diproyeksi akan mengalami minus 2,9%.
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengatakan akan menyusun strategi dalam mengejar pertumbuhan ekonomi di kuartal keempat agar tumbuh positif
Baca Juga: Pulih dari Resesi, Ekonomi Korea Selatan Tumbuh 1,9%
Salah satunya Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan melaksanakan fungsi countercyclical yang efektif pada triwulan ketiga tahun 2020 untuk menjaga stabilitas sistem keuangan.
"Pemerintah akan terus mendorong pelaksanaan APBN ini sampai dengan akhir tahun anggaran 2020 sehingga APBN tetap akan menjadi pendukung atau support terhadap proses pemulihan ekonomi," kata Sri Mulyani seperti dikutip laman Kementerian Keuangan Jumat (30/10/2020).
Lalu, defisit APBN hingga akhir triwulan III 2020 yang mencapai Rp682,1 triliun atau 4,16% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Selanjutnya, realisasi pendapatan negara tercatat sebesar Rp1.159 triliun (68,2% dari target dalam Perpres Nomor 72 Tahun 2020) atau tumbuh negatif 13,7% (yoy), seiring kontraksi pada penerimaan perpajakan dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP), sesuai dengan perlambatan aktivitas ekonomi dan peningkatan pemanfaatan stimulus perpajakan.
Nantinya, realisasi belanja pemerintah mengalami akselerasi pada triwulan III 2020 dengan pertumbuhan 15,5% (yoy), mencapai Rp1.841,1 triliun (67,2% dari anggaran).
"Belanja Pemerintah ini meningkat tajam pada program PEN serta percepatan penyaluran Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD)," tandasnya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.