Potensi Besar Ekonomi Syariah RI, Cek 7 Faktanya

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 02 November 2020 07:25 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 01 320 2302405 potensi-besar-ekonomi-syariah-ri-cek-7-faktanya-BvYBWtpuYV.jpg Syariah (Foto: Okezone)

JAKARTA - Pemerintah menyebut potensi ekonomi syariah di Indonesia sangat besar. Mengingat di Indonesia merupakan salah satu negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

Tak hanya di dalam negeri, di luar negeri juga ada beberapa yang meminati. Seperti misalnya Jepang, Thailand hingga Amerika Serikat (AS).

Ada sejumlah fakta menarik dari potensi ekonomi syariah. Berikut Okezone telah merangkum fakta-fakta potensi ekonomi syariah, Senin (2/11/2020).

 

1. Jokowi Sebut Potensi Ekonomi Syariah RI Besar

Presiden Joko Widodo mengatakan ekonomi dan keuangan syariah masih memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan, tidak hanya diminati oleh negara mayoritas penduduk muslim, tapi juga oleh negara lain seperti Jepang, Thailand hingga Amerika Serikat.

“Indonesia dengan jumlah penduduk muslim di dunia, harus menangkap peluang ini. Sekali lagi, harus menangkap peluang ini," ungkap dia.

2. Indonesia Raksasa yang Sedang Tidur

Dengan potensi yang begitu besar, Indonesia diibaratkan sebagai raksasa yang sedang tidur. Karena itu, pemerintah konsen untuk membangkitkan ekonomi syariah di Indonesia.

3. Pemerintah Mau Gabungkan 3 Bank Syariah

Semua aset bank syariah milik negara akan dilebur menjadi satu, untuk melahirkan bank syariah raksasa. Jadi total 3 aset bank syariah BUMN, yaitu BRI Syariah, Bank Syariah Mandiri dan BNI Syariah sampai semester I 2020 adalah Rp214 triliun. Sebuah angka yang besar.

Di lain sisi pemerintah juga terus mengembangkan bank wakaf mikro di berbagai tempat, bekerja sama dengan pondok pesantren maupun organisasi keagamaan.

4. Jepang hingga AS Minati Ekonomi Syariah

Ekonomi dan keuangan syariah tidak hanya diminati oleh negara mayoritas penduduk Muslim, tapi juga negara lain seperti Jepang, Thailand hingga Amerika Serikat (AS).

Oleh karena itu, akselerasi percepatan pengembangan ekonomi syariah Nsebagai bagian dari transformasi menuju indonesia maju. Dan upaya menjadikan Indonesia sebagai pusat rujukan ekonomi syariah global.

 

5. Wapres Sebut Ekonomi Syariah sebagai Gaya Hidup

Wakil Presiden RI Ma'ruf Amin mengatakan bahwa pemerintah Indonesia saat ini fokus mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah. Terlebih, potensi Indonesia dalam ekonomi syariah sangat besar sebagai negara dengan populasi penduduk Muslim terbesar di dunia.

Berdasarkan data Boston Consulting Group (BCG), jumlah penduduk Muslim menengah ke atas adalah sebesar 64,5 juta orang, atau sebanyak 27,5% dari 233 juta populasi penduduk muslim di Indonesia.

Dari fakta-fakta tersebut, ekonomi syariah bisa memainkan peran yang signifikan dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk.

Ditambah lagi, potensi dari jumlah orang Muslim di dunia yang mencapai 1,8 miliar jiwa atau sebesar 24,1% dari total penduduk dunia

“Kelompok masyarakat ini membutuhkan jasa dan produk keuangan sesuai dengan prinsip Islam yang mereka pegang. Terlebih, produk halal adalah bagian dari gaya hidup kelompok penduduk Muslim menengah ke atas yang dinamis,” jelasnya

6. Ekonomi Syariah sebagai Pendorong Negara Maju

Bank Indonesia (BI) menyebut digitalisasi sektor keuangan syariah bisa menjadikan Indonesia sebagai negara maju dengan penghasilan tinggi pada 2045 sesuai visi-misi presiden. Hal itu disampaikan oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Sugeng dalam rangkain acara Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2020 pada hari ini.

Menurutnya, luas pasar keuangan syariah di Indonesia tercermin dari keberadaan 14 bank umum syariah, 20 unit usaha syariah, lalu 163 bank perkreditan rakyat syariah dan 4.500 lembaga keuangan mikro syariah di seluruh Indonesia.

 

7. Transaksi ISEF Capai Rp5,03 Triliun

Bank Indonesia (BI) mencatat transaksi yang terjadi selama kegiatan Indonesia Syariah Economic Festival ke-7 tahun 2020 (ISEF 2020) mencapai Rp5,03 triliun.

Hal ini dikarenakan, komitmen transaksi business to business, transaksi ritel business to consumer, dan komitmen wakaf produktif.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini