Rekomendasi Bank Dunia untuk Ketahanan Pangan RI

Michelle Natalia, Jurnalis · Kamis 17 Desember 2020 12:33 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 17 320 2329333 rekomendasi-bank-dunia-untuk-ketahanan-pangan-ri-vW8t68DTYr.jpg Pertanian (Shutterstock)

JAKARTA - Ekonom Senior Bank Dunia untuk Indonesia, Ralph Van Doom menyebutkan bahwa ada tiga hal yang direkomendasikan Bank Dunia untuk mengatasi tantangan ketahanan pangan. Serta memodernisasi sistem pertanian pangan di Indonesia.

"Pertama, pendekatan ketahanan pangan perlu diperluas untuk menjawab kebutuhan Indonesia dan mewujudkan visi ketahanan pangan komprehensif yang tertuang dalam Undang-Undang Pangan," terang Ralph dalam video virtual pada Kamis(17/12/2020).

 Baca juga: Bicara Ketahanan Pangan, Erick Thohir Libatkan Petani

Kedua, tujuan kebijakan perlu disesuaikan, instrumen kebijakan disesuaikan dan ruang lingkup kebijakan didefinisikan ulang. Ketiga, pengeluaran publik perlu dialokasikan kembali untuk mendapatkan dampak yang lebih besar dan produktif.

Untuk menerapkan strategi ketahanan pangan yang lebih luas ini, tujuan kebijakan perlu disesuaikan untuk meningkatkan beberapa hal.

 Baca juga: Sri Mulyani Siapkan Anggaran Rp99 Triliun untuk Ketahanan Pangan

Produktivitas harus bergeser dari fokus eksklusif pada peningkatan hasil ke peningkatan produktivitas tanaman dan ternak. Untuk diversifikasi, perlu transisi dari fokus pada tanaman pilihan ke arah budaya pertanian yang beragam yang menguntungkan semua petani.

"Sementara itu, untuk daya saing, harus beralih dari melindungi pasar domestik dengan pembatasan impor menjadi mendukung peningkatan daya saing pertanian, dan membuka pasar ekspor yang luas bagi produsen dalam negeri. Terakhir, kualitas belanja publik dalam sistem agrifood perlu ditingkatkan," tambah Ralph.

Bank Dunia menyarankan agar subsidi pupuk dalam jumlah besar dikurangi secara bertahap. Sebaliknya, ini dapat diterapkan kembali untuk memperkuat layanan teknis dan peraturan, yang sangat penting untuk meningkatkan produktivitas pertanian, mengelola risiko terkait produksi, mengurangi jejak lingkungan pertanian, dan mempromosikan diversifikasi pertanian yang didorong oleh permintaan.

"Lalu, lebih banyak sumber daya dapat dialokasikan untuk meningkatkan infrastruktur pedesaan dan perkotaan untuk meningkatkan posisi pemasaran petani, mengurangi kerugian pasca panen, dan mengurangi bahaya keamanan pangan," ungkapnya.

Ralph menyebutkan bahwa diperlukan lebih banyak investasi dalam manajemen keamanan pangan dan tindakan lain untuk perlindungan konsumen.

"Terakhir, direkomendasikan untuk menyeimbangkan kembali pengeluaran irigasi dari investasi pada infrastruktur baru untuk memastikan operasi dan pemeliharaan yang memadai serta investasi di pertanian untuk meningkatkan produktivitas sistem irigasi," jelasnya.

Pemerintah Indonesia dapat memanfaatkan pengembangan sistem pertanian pangan untuk memajukan pertumbuhan inklusif.

"Modernisasi pertanian lebih lanjut dapat mendorong pertumbuhan, pendapatan pertanian, pekerjaan, ekspor, dan kelestarian lingkungan sambil memberikan lebih banyak pilihan, nilai, keamanan, dan kenyamanan bagi konsumen dengan harga yang lebih stabil dan kompetitif," pungkas Ralph.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini