Outlook Ekonomi 2021: Menko Airlangga, Menko Luhut, hingga Gubernur BI Angkat Bicara

Taufik Fajar, Jurnalis · Senin 04 Januari 2021 10:52 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 04 320 2338367 outlook-ekonomi-2021-menko-airlangga-menko-luhut-hingga-gubernur-bi-angkat-bicara-0OD9EGvdpa.jpg Ekonomi RI 2021 (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi 2021 diprediksi kembali pulih setelah rencana vaksinasi Covid-19. Pemerintah akan mempersiapkan langkah mendasar dengan melakukan reformasi struktural yang akan dilakukan awal tahun depan. Diharapkan hasilnya sudah mulai terlihat sepanjang 2021.

Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa kebijakan yang berjalan baik di tahun 2020 patut diteruskan, terutama dalam penanganan Covid-19 dan pemulihan kehidupan masyarakat.

"Pemerintah akan segera memberikan vaksin gratis ke seluruh masyarakat di awal 2021. Program vaksinasi ini diharapkan akan memberikan kepercayaan publik terhadap penanganan Covid-19 dan menimbulkan rasa aman di masyarakat. Dengan demikian, pemulihan ekonomi nasional diharapkan dapat berjalan dengan lebih cepat,” ungkap Presiden Joko Widodo,

Baca Juga: Menperin: Dengan Kombinasi Kebijakan, Ekonomi RI 2021 Bakal Tembus 5,5% 

Sejumlah reformasi struktural yang telah disiapkan pemerintah di tahun ini diperkirakan akan mulai terlihat hasilnya di tahun 2021.

Implementasi UU Cipta Kerja, melalui sejumlah Peraturan Pelaksanaan akan mulai diberlakukan pada Februari 2021 dan diharapkan akan mendorong aktivitas ekonomi-sosial masyarakat, mendukung masuknya investasi dan juga capital inflow.

Sovereign Wealth Fund (SWF) atau Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau yang dikenal dengan nama Indonesia Investment Authority (INA), merupakan sumber pembiayaan pembangunan baru yang tidak berbasis pinjaman, tetapi dalam bentuk penyertaan modal atau ekuitas, diperkirakan akan mendorong pembangunan di berbagai sektor dan infrastruktur.

Baca Juga: Larangan WNA ke Indonesia Bisa untuk Pulihkan Ekonomi Indonesia 

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan reformasi struktural ini momentum untuk meraih peluang dalam mendorong pemulihan ekonomi, dengan melakukan reformasi struktural melalui kemudahan berusaha, pemberian insentif usaha, dan dukungan UMKM, untuk memberikan kepastian usaha dan menciptakan iklim usaha dan investasi yang lebih baik.

"Sehingga penciptaan lapangan kerja dapat terealisasi. Salah satu pendorong utama [key-driver] yang diandalkan adalah melalui UU Cipta Kerja,” ungkap Menko Airlangga.

 

Selain itu, sejumlah strategi lainnya turut disiapkan, yaitu dengan melanjutkan Program Komite PC-PEN (Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional) di tahun 2021, dukungan kebijakan untuk pemberdayaan UMKM, penyusunan Daftar Prioritas Investasi (DPI), dan pembentukan Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau SWF.

Sinyal pemulihan mulai terlihat, ekspor mulai pulih pada akhir 2020 dan tren ini diharapkan terus terjaga pada tahun 2021. Indonesia telah mendapatkan kembali fasilitas Generalized System of Preferences (GSP) yang tentunya akan mendorong ekspor Indonesia.

Transaksi Berjalan Indonesia pun pertama kalinya surplus sebesar USD 964 juta atau 0,36% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sejak 10 tahun terakhir. Kondisi ini juga didukung oleh Neraca Perdagangan Indonesia yang sampai dengan Oktober surplus sebesar USD 17,07 Miliar, serta Cadangan Devisa yang cukup tinggi sebesar USD 135,2 Miliar pada Triwulan III/2020.

Berdasarkan data PDB pada Triwulan III tahun 2020 yang telah menunjukkan tren perbaikan, pemerintah optimis akan terus berlanjut di Triwulan IV 2020 dan sepanjang tahun 2021.

“Indonesia telah melewati posisi rock bottom, posisi terendah ekonomi pada Triwulan II. Kita optimistis tren perbaikan dan pemulihan ekonomi akan terus berlanjut pada tahun mendatang,” ujar Menko Airlangga.

Selain itu, tren perbaikan juga terlihat dari kinerja pasar saham dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika. IHSG berada pada kisaran 6.100 dan Rupiah pada posisi 14.100 per dolar Amerika, posisi yang relatif stabil dan mulai kembali atau bahkan lebih baik dari sebelum kondisi Covid-19.

Konsumsi domestik dan inflasi juga menunjukkan tren perbaikan, memperkuat fondasi pemulihan ekonomi dari sisi demand.

Permintaan domestik dan keyakinan konsumen yang membaik, memicu aktivitas produksi domestik.

“Di sisi supply, di tengah kontraksi ekonomi yang terjadi, masih terdapat sektor yang mampu bertahan dan tumbuh positif di sepanjang tahun 2020, seperti sektor Pertanian, Informasi dan Komunikasi, Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial, serta Jasa Pendidikan,” lanjut Menko Airlangga.

Peluang berikutnya berasal dari pemulihan harga komoditas utama Indonesia di pasar global, seperti CPO dan Nikel. Pulihnya harga komoditas ini akan memberikan dampak multiplier yang besar terhadap aktivitas ekonomi domestik, sehingga dapat mempercepat pemulihan ekonomi nasional.

Hal lain yang harus dimanfaatkan adalah aktivitas perdagangan internasional yang semakin terintegrasi, melalui perjanjian RCEP (Regional Comprehensive Economic Partnership) secara luas oleh 10 negara ASEAN dan 5 Mitra dagang besar, serta kerja sama internasional lainnya.

Dengan berbagai tren positif, serta berbagai bauran kebijakan dan program, dengan memanfaatkan momentum dan meraih peluang pemulihan ekonomi, diharapkan ekonomi Indonesia dapat tumbuh di kisaran 4,5% hingga 5,5% di tahun 2021.

Namun, Menko Airlangga menggarisbawahi bahwa berbagai upaya pemerintah tersebut tidak akan berhasil, tanpa dukungan dari seluruh pemangku kepentingan.

“Koordinasi dan sinergi antara pemerintah, dunia usaha dan seluruh komponen masyarakat harus terus diperkuat, untuk menjawab tantangan dan memanfaatkan peluang pemulihan ekonomi di tahun 2021,” pesan Menko Airlangga.

Pertumbuhan ekonomi 2021 diprediksi kembali pulih setelah rencana vaksinasi Covid-19. Namun, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengatakan upaya pemulihan ekonomi di berbagai negara masih akan dibayangi hantu pandemi covid-19.

"Tahun depan diperkirakan akan ada rebound, meskipun ini masih tentu dihantui oleh covid-19," kata Sri Mulyani dalam video virtual.

Ketidakpastian perbaikan ekonomi tahun depan dipengaruhi oleh efektivitas dari vaksin covid-19. Pasalnya, kehadiran vaksin akan membantu upaya pemulihan ekonomi karena masyarakat mulai melakukan kegiatan secara normal.

"Paling tidak kegiatan secara fisik yang kemudian bisa menghasilkan kegiatan ekonomi, yang tentu akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dunia," jelas dia.

Lanjutnya, pertumbuhan ekonomi global diprediksi akan tumbuh antara 4% sampai 5% . Pemulihan ini juga terjadi di negara berkembang, termasuk Indonesia yang diperkirakan tumbuh sekitar 5%.

Untuk mencapai semua itu, tantangan kesehatan mesti diatasi oleh semua negara. Masalah sosial, pengangguran, penurunan dunia usaha yang bisa berimbas kepada sektor keuangan juga harus bisa diselesaikan bersama-sama.

"Kami bersama dengan BI bersama-sama menjaga stabilitas ekonomi dari instrumen fiskal dan moneter dari ancaman kemerosotan ekonomi. Sekarang kami berpikir countercyclical menahan ekonomi, bagaimana pulih dari sisi fiskal dan melakukan deficit financing yang baik," pungkas dia.

Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Panjaitan mengatakan bahwa kerjasama antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) masih di bawah potensi yang seharusnya. Luhut mengajak agar perusahaan-perusahaan AS bisa berbondong-bondong berinvestasi ke Indonesia.

"Beberapa waktu lalu, saya ke AS dan berbincang dengan Trump di Washington DC. Saya berkomunikasi dengannya, bagaimana bisa mengajak perusahaan-perusahaan AS bekerja sama dan berinvestasi di Indonesia," ujar Luhut dalam penutupan US-Indonesia Investment Summit secara virtual di Jakarta.

Luhut menyebutkan bahwa Trump juga telah secara resmi memperpanjang fasilitas GSP kepada Indonesia. Ditambah lagi, CEO United States International Development Finance Corporation (DFC) Adam Boehler telah menandatangani Letter of Interest (LoI) untuk menginvestasikan sebesar USD2 miliar atau Rp28 triliun dari DFC kepada Indonesia Investment Authority atau sovereign wealth fund Indonesia di Washington DC bulan November lalu.

"Trump juga percaya bahwa pasar besar seperti Indonesia akan memperkuat ekonomi dan juga ikatan AS dengan Indonesia," terang Luhut.

Dia juga menambahkan bahwa Indonesia terus menunjukkan pemulihan ekonomi kendati terpaan pandemi Covid-19. Dan kedepannya, Luhut optimistis bahwa Indonesia akan bangkit di tahun 2021.

"Minggu lalu, Indonesia sudah menerima 1,2 juta dosis vaksin yang akan kami mulai vaksinasi secara gradual mulai Desember 2020 dan hingga 2021," ucapnya.

Pemulihan ini, lanjut dia, juga didukung oleh reformasi struktural yang didorong oleh UU Cipta Kerja atau Omnibus Law yang menjadi babak baru perlindungan pekerja dan juga menjadikan Indonesia sebagai negara tujuan investasi strategis.

"Saya berharap perusahaan-perusahaan AS bisa melihat potensi kerjasama dan investasi dengan Indonesia," pungkas Luhut.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menargetkan realisasi investasi Indonesia tahun depan sebesar Rp858,5 triliun. Bahkan, hingga 2024 realisasi investasi dalam negeri ditetapkan sebesar Rp1.239,3 triliun.

Staf Ahli Bidang Peningkatan Daya Saing Penanaman Modal BKPM Heldy Satrya Putera mengatakan, target tersebut sudah dirumuskan dalam Renstra atau Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) BKPM Tahun 2020-2024. Dengan demikian, hingga 2024 BKPM optimis realisasi nilai investasi dalam negeri naik sebesar 50%.

"Target realisasi kita, walaupun kita bisa capai mungkin di tahun ini, tapi di tahun ke depan target kita di 2020 hingga 2024 akan meningkat hampir 50%, di tengah pandemi seperti ini bukan hal mudah untuk kita mencapai itu. Ini adalah hal yang harus kita lihat apa yang sebetulnya kita hadapi saat ini sehingga ke mana kita harus mengarah untuk meningkatkan daya saing kita," ujarnya.

Untuk target realisasi di tahun depan, nilai realisasi penanaman modal sektor sekunder sebesar Rp205,7 triliun, sebaran penanaman modal di luar Jawa senilai 49,0%.

Sedangkan Bank Indonesia (BI) menyiapkan langkah dalam mengakselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 4,8% hingga 5,8% pada 2021.

Gubernur BI Perry Warjiyo optimistis kinerja ekspor pada tahun depan akan semakin baik. Keyakinan ini seiring dengan perbaikan ekonomi global, khususnya negara mitra dagang utama Indonesia.

"Ekspor tahun depan akan semakin baik, ini didukung oleh pertumbuhan ekonomi global yang akan membaik, seperti kami perkirakan di 2021 tumbuh 5%," kata Perry dalam video virtual.

Menurutnya, China sebagai salah satu negara mitra dagang Indonesia yang akan ekonominya diperkirakan akan tumbuh 7,8% serta Amerika Serikat (AS) yang diperkirakan tumbuh 4,3%.

“Ini adalah sumber pertumbuhan ekonomi dari ekspor,” kata dia.

Kedua, lanjut Perry, yakni dari sisi konsumsi, baik swasta maupun pemerintah. Dia mengatakan, bantuan pemerintah untuk perlindungan sosial juga akan terus mendukung daya beli masyarakat.

Ketiga, yakni dari sisi investasi. Perry memperkirakan investasi pada 2021 akan terakselerasi, tercermin dari belanja pemerintah di bidang infrastruktur yang besar, juga didukung oleh implementasi UU Cipta Kerja.

"Pemerintah di bidang infrastruktur yang besar, juga didukung oleh implementasi UU Cipta Kerja," tandasnya.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan menerbitkan dua kebijakan strategis untuk pasar modal Indonesia tahun 2021 mendatang. Adapun dua kebijakan tersebut diantaranya Peraturan OJK (POJK) tentang Securities Crowdfunding dan POJK tentang Disgorgement/Disgorgement Fund.

Kepala Departemen Pengawasan Pasar Modal 1A OJK, Luthfy Zain Fuady menjelaskan, POJK tentang Securities Crowdfunding merupakan upaya pihaknya untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional (PEN) dimana sasaran utamanya adalah Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Adapun POJK ini diharapkan bisa diterbitkan pada bulan ini dan saat ini masih berproses di Kementerian Hukum dan HAM.

"Kita melihat saat ini sudah ada aturan tentang equity crowdfunding, kita launching 2018 baru ada 111 emiten yang mencari dana lewat platform crowdfunding dengan nilai emisi Rp150an miliar, masih kecil sekali. kita cari tau kenapa ga tumbuh dengan bagus? karena ternyata pelaku UMKM banyak yang punya bentuk hukumnya bukan perseroan terbatas (PT)," ujar Luthfy dalam Media Gathering 2020, Selasa (1/12/2020).

"Kita coba perluas itu, kita revisi POJK tentang equity crowdfunding sehingga memungkinkan bentuk usaha yang bukan PT itu bisa rising fund melalui platform crowdfunding," sambungnya.

Kemudian, kebijakan strategis kedua adalah penerbitan POJK tentang Disgorgement/Disgorgement Fund. Luthfy menyebut bahwa peraturan ini telah mendapat persetujuan dari dewan komisioner OJK saat ini sedang dalam proses harmonisasi di Kementerian Hukum dan HAM untuk diundangkan.

Dengan adanya POJK ini diharapkan setiap kali ada masalah di pasar modal Indonesia yang menimbulkan kerugian bagi investor maka ada mekanisme yang bisa ditempuh untuk mengembalikan kerugian kepada investor.

"Kenapa menjadi lama sekali proses penyusunan peraturan ini? ternyata memang banyak isu yang berkaitan soal bagaimana memaksa orang untuk membayar atau mengembalikan uangnya seperti apa, ini butuh regulasi, koordinasi dengan instansi lain yang memiliki kekuatan untuk memaksa itu," kata dia.

Dia menyebut, OJK juga melakukan koordinasi dengan Kejaksaan agar jaksa bisa membantu pelaksanaan pengembalian keuntungan tidak sah ini. Ternyata, ada jalan bahwa jaksa juga dapat berfungsi sebagai pengacara negara yang bisa diminta bantuan untuk membantu enforcement OJK setelah menerapkan prinsip ini.

"Harapannya nanti perlindungan kepada investor akan semakin baik karena OJK sudah memiliki mekanisme untuk disgorgement," ucapnya.

Menurut Ekonom Indef Bhima Yudistira pertumbuhan ekonomi tahun 2021 diperkirakan mencapai 2,5-3%. vaksin memang menjadi faktor yang mendorong meningkatnya kepercayaan konsumen khususnya kelas menengah dan atas untuk kembali berbelanja.

"Dengan adanya vaksin diharapkan mobilitas pun kembali meningkat, tentu syaratnya adalah akses vaksin yang tersedia bagi seluruh kelompok masyarakat, dan protokol kesehatan tetap dijaga," ujar dia kepada Okezone, Jumat (25/12/2020).

Lantas enapa pertumbuhan belum bisa 5%? Karena Indonesia belum menghadapi second wave atau gelombang kedua, dan ini juga butuh persiapan dari segi dana kesehatan tidak sekedar vaksin saja.

"Distribusi vaksin pun butuh waktu tidak bisa instan, apalagi jumlah masyarakat yang masuk kelompok rentan seperti lansia dan punya penyakit bawaan di Indonesia cukup tinggi. Belum lagi soal vaksin gratis atau tidak," ungkap dia.

Hal lain yang perlu dijadikan perhatian adalah investasi masih butuh waktu untuk recovery, seiring pemulihan di sisi permintaan ekspor maupun domestik. investor pun banyak yang wait and see terkait progress pembangunan kawasan industri baru seperti di batang jawa tengah misalnya.

"Jadi disaat Indonesia diperkirakan tumbuh 2,5-3%, investor mulai melirik negara lain yang pemulihannya relatif lebih cepat. ada Vietnam yang diperkirakan tumbuh 6% misalnya tahun depan, bahkan di kuartal II ekonomi Vietnam sudah positif, lebih cepat keluar dari resesi dibanding Indonesia," jelasnya.

Proyeksi impor mulai meningkat khususnya impor bahan baku industri. sementara impor barang konsumsi juga terdorong oleh meningkatnya volume transaksi e-commerce, dimana porsi barang impor cukup dominan.

"Untuk impor barang modal akan terdorong oleh belanja pemerintah di sektor infrastruktur. Kondisi ini akan menyebabkan pelebaran CAD, setelah sebelumnya sempat menurun karena aktivitas impor barang dan jasa terpengaruh oleh pandemi," tandas dia.

Sementara itu, Ekonom Core Piter Abdullah mengatakan pemulihan ekonomi nasional akan dipengaruhi oleh banyak faktor. Pertama penanggulangan pandemi. Kalau efektif dan pandemi berakhir Lebih cepat pemulihan ekonomi akan Lebih cepat dan Lebih baik.

"Kita berpeluang tumbuh normal dikisaran 4%-5%," kata dia kepada Okezone.

Menurutnya, penanggulangan pandemi sendiri akan dipengaruhi oleh efektivitas vaksin dan pelaksanaan protokol kesehatan.

"Faktor kedua adalah efektivitas kebijakan pemerintah. Kalau pemerintah bisa mengambil kebijakan yang tepat guna mereformasi structure ekonomi. Maka Indonesia bisa pulih dengan pertumbuhan ekonomi yang Lebih tinggi," jelas dia.

Senada hal itu, Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengungkapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2021 diperkirakan akan berada di kisaran 3-4%, meningkat dibanding tahun ini, yang diproyeksikan terkontraksi di kisaran -2% hingga -1%.

"Peningkatan laju pertumbuhan ekonomi 2021 didorong oleh peningkatan permintaan domestik. Peningkatan permintaan ini tidak lepas dari mulai membaiknya aktivitas perekonomian dengan vaksinasi yang akan dimulai awal tahun depan," ujar dia kepada Okezone.

Kemudian, lanjut dia didukung juga oleh akselerasi belanja pemerintah secara khusus akselerasi program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Program ini juga diproyeksikan akan turut mendukung pemulihan investasi, seiring dengan sifatnya yang memberikan stimulus untuk sisi permintaan maupun penawaran.

"Dengan meningkatnya aktivitas ekonomi, maka diperkirakan akan terjadi kenaikan impor untuk bahan baku serta barang modal," ungkap dia.

Indikasi ini sudah mulai terlihat dari kuartal IV 2020, di mana sudah mulai terjadi peningkatan impor bulanan untuk bahan baku dan barang modal. Peningkatan impor di tahun 2021 akan sangat bergantung dari kecepatan ekspansi dari sektor manufaktur di Indonesa.

"Alhasil, peningkatan impor pada tahun 2021 akan berpotensi mendorong pelebaran defisit transaksi berjalan dimana diperkirakan akan mulai terjadi utamanya pada paruh kedua 2021, yang menjadi salah satu titik balik pada pemulihan aktivitas ekonomi di Indonesia," jelas dia.

Namun demikian, pihaknya masih perkirakan CAD akan berada di bawah 1,5% dari PDB, meningkat dibanding tahun ini yang diperkirakan berada di bawah 1% dari PDB.

"Peningkatan CAD di tahun 2021 akan memberikan tekanan pada nilai tukar Rupiah secara umum. Sejalan dengan terkendalinya inflasi serta transaksi berjalan yang tetap managebale, Rupiah diperkirakan cenderung stabil di kisaran 14.000-14.500 sepanjang tahun 2021 mendatang," tutur dia

Stabilitas nilai tukar rupiah juga didukung oleh potensi aliran modal asing, baik di pasar saham maupun pasar obligasi. Aliran modal masuk asing berkaitan dengan semakin rendahnya volatilitas pasar global, sehingga di tahun depan risk-appetite dari investor cenderung meningkat, dan mendorong mereka untuk mencari aset-aset yang lebih berisiko.

Dari sisi perbankan, di tahun 2020, pertumbuhan kredit mengalami kontraksi, sementara pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) malah mengalami peningkatan. Peningkatan DPK disertai penurunan kredit disebabkan oleh terhambatnya aktivitas ekonomi, diikuti oleh perilaku risk-averse oleh berbagai perusahaan dan investor, sehingga mengalihkan dananya ke perbankan.

Pada tahun 2021 eiring dengan pemulihan ekonomi, diperkirakan pertumbuhan kredit akan kembali pulih, namun utamanya pada paruh kedua 2021.

"Baru pulihnya pertumbuhan kredit di paruh kedua 2021 disebabkan oleh sifat dari pertumbuhan kredit yang lagging dari pemulihan ekonomi terlebih dahulu," kata dia.

Meskipun realisasi PEN per 14 Desember sudah tercatat sekitar Rp481,61 triliun atau sekitar 69,3% dari pagu, tingkat konsumsi masyarakat belum sepenuhnya meningkat mengingat sebagian besar anggaran PEN yang terserap adalah program perlindungan sosial yang diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang tujuannya adalah untuk membatasi dampak penurunan daya beli yang disebabkan oleh pandemi Covid-19.

"Sementara itu, dari sisi konsumsi masyarakat menengah dan atas cenderung masih menahan belanja meskipun beberapa indikator leading seperti Indeks Kepercayaan Konsumen mulai menunjukkan peningkatan," jelasnya.

Oleh sebab itu, kebijakan fiskal perlu terus didorong untuk memberikan confidence bagi konsumen, khususnya kelas menengah ke atas, agar perlahan-lahan mulai meningkatkan tingkat konsumsi sedemikian sehingga akan berdampak pada peningkatan produksi yang selanjutnya akan mendorong permintaan kredit.

"Dengan peningkatan permintaan kredit, maka transmisi moneter yakni penurunan suku bunga akan lebih efektif mendorong pemulihan ekonomi nasional. Pada tahun 2021 diperkirakan pertumbuhan kredit akan berada pada kisaran 3-4% yoy," tandas dia.

1
5

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini