Harga Minyak Dunia Mixed imbas Kenaikan Kasus Covid-19

Selasa 12 Januari 2021 08:24 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 12 320 2342879 harga-minyak-dunia-mixed-imbas-kenaikan-kasus-covid-19-13sh2RUQfE.jpg Kilang Minyak (Reuters)

JAKARTA - Harga minyak beragam pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB). Harga minyak mixed setelah kenaikan kuat pekan lalu. Lockdown di seluruh dunia memperbarui kekhawatiran tentang permintaan bahan bakar global, sementara dolar AS yang lebih kuat juga menekan harga.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Maret, terpangkas 33 sen menjadi menetap di USD55,66 per barel, setelah memantul dari terendah sesi USD54,99. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari naik tipis satu sen, menjadi ditutup di USD52,25 per barel.

Baca Juga: Harga Minyak Melonjak Hampir 5%

"Kekhawatiran baru tentang permintaan karena jumlah kasus baru corona yang sangat tinggi dan pembatasan mobilitas lebih lanjut, ditambah dolar AS yang lebih kuat, menghasilkan tekanan jual," kata analis Commerzbank, Eugen Weinberg dilansir dari Antara, Selasa (12/1/2021).

Kasus virus corona di seluruh dunia telah melampaui 90 juta, menurut penghitungan Reuters. Terlepas dari penguncian-penguncian nasional yang ketat, Inggris menghadapi minggu-minggu terburuk pandemi dan di Jerman kasus-kasus masih meningkat.

 

China Daratan mengalami peningkatan harian terbesar dalam infeksi virus dalam lebih dari lima bulan, kata pihak berwenang, ketika infeksi baru meningkat di Hebei, yang mengelilingi ibu kota, Beijing. Di Shijiazhuang, ibu kota provinsi dan pusat penyebaran baru, orang dan kendaraan dilarang pergi, ketika pihak berwenang berusaha mengendalikan penyebaran.

Dolar yang lebih kuat, didukung oleh harapan akan lebih banyak stimulus untuk meningkatkan ekonomi terbesar dunia, juga membebani harga minyak. Minyak biasanya dihargai dalam dolar, jadi dolar yang lebih kuat membuat minyak mentah lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang lain.

Kerugian Senin (11/1/2021) mengikuti minggu yang kuat untuk harga minyak. Brent dan WTI naik sekitar 8% minggu lalu, didukung oleh janji Arab Saudi untuk pengurangan produksi minyak sukarela sebesar satu juta barel per hari (bph) pada Februari dan Maret sebagai bagian dari kesepakatan bagi sebagian besar produsen OPEC+ untuk mempertahankan produksi tetap stabil.

"Meskipun harga minyak turun hari ini, langkah Saudi masih menahannya pada level yang cukup tinggi," kata Bjornar Tonhaugen, kepala pasar minyak Rystad Energy. "Hari ini koreksi tidak besar-besaran, melainkan penyesuaian logis yang disebabkan oleh beberapa sinyal permintaan bearish dan penguatan dolar AS."

Pemotongan pasokan Saudi diperkirakan akan membawa pasar minyak ke dalam defisit untuk sebagian besar 2021 meskipun penguncian menekan permintaan, kata para analis. Brent bisa naik menjadi USD65 per barel pada musim panas 2021, kata Goldman Sachs, didorong oleh pemotongan Saudi dan implikasi peralihan kekuasaan ke Demokrat di Amerika Serikat.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini