Pengusaha Ritel Tolak Usulan Lockdown Akhir Pekan

Fadel Prayoga, Jurnalis · Rabu 27 Januari 2021 09:57 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 27 320 2351520 pengusaha-ritel-tolak-usulan-lockdown-akhir-pekan-zP96vK9Qa6.jpg Ekonomi (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Pengusaha ritel menolak usulan penerapan kebijakan lockdown di akhir pekan. Hal ini lantaran pelarangan aktivitas sosial itu belum tentu efektif menurunkan angka penyebaran kasus Covid-19 di Indonesia.

"Kami lihat enggak efektif, sekarang sudah PPKM aja malah meningkat (kasus Covid-19)," kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel seluruh Indonesia (Aprindo) Roy N Mandey kepada Okezone, Rabu (27/1/2021).

Baca Juga: Lockdown Akhir Pekan Bisa Ganggu Proses Pemulihan Ekonomi 

Menurut dia, lebih baik pemerintah menerbitkan aturan berupa diizinkannya masyarakat untuk menegur orang yang tak mematuhi protokol kesehatan, sehingga nantinya akan terbangun sebuah kesadaran dan kepatuhan dalam mencegah penyebaran wabah tersebut.

"Jauh lebih penting itu membangun otorisasi (antar masyarakat) untuk saling menegur," ujarnya.

Dia menyebut, bila hanya mengandalkan aparat pemerintah dalam menindak dan melakukan pengawasan memang kurang efektif, karena jumlah petugasnya yang terbatas.

"Masyarakat diberi otoritas untuk menegur orang. Kalau sekarang kita tegur orang, bisa berantem, bisa terjadi polemik. Tapi kalau pemerintah juga melibatkan masyarakat untuk saling edukasi, membangun kesadaran satu yang lainnya, maka bisa dilakukan dengan (penerbitan) Perda, PP, atau SE, ini akan saling menyadari," katanya.

Sebelumnya, Anggota Komisi IX DPR Saleh Partaonan Daulay mengatakan, daripada hanya memperpanjang PPKM, lebih baik pemerintah melakukan lockdown total akhir pekan, mulai Jumat malam pukul 19.00 WIB hingga Senin pukul 05.00 pagi.

"Selama dua hari tiga malam, semua orang tidak boleh lagi keluar rumah. Itu terutama di daerah zona merah dan oranye di seluruh Indonesia. Nanti dia hanya boleh keluar lagi pada Senin jam 5 pagi," katanya, Senin (25/1/2021).

Dikatakan Saleh, jika semua orang berada di dalam rumah secara menyeluruh selama dua hari tiga malam secara bersamaan, diharapkan akan berdampak pada menurunnya tingkat penyebaran virus.

"Kalau misalnya tidak lockdown seperti itu, apa yang dilakukan sekarang hanya sampai jam 7 malam, kemudian aktivitas lainnya tetap, ya masih ada penyebaran disana sini. Tapi kalau lockdown enggak ada yang boleh keluar, kalau keluar diberi ketegasan denda, banyak orang nggak keluar. Jadi menurut saya itu rumusnya," katanya.

Menurut Saleh, lockdown akhir pekan bukan hal baru. Langkah tersebut pernah dilakukan di sejumlah kota besar di Turki.

"Di kota-kota besar di Turki menerapkan dan dampaknya besar. Ada pengaruhnya, secara rasional itu ada pengaruhnya. Kalau yang sekarang kita lakukan belum cukup menghambat. Tapi kalau lockdown akhir pekan, itu bisa menghambat dan tidak mengganggu ekonomi karena orang masih bisa melakukan aktivitas ekonomi dari Senin sampai Jumat," katanya.

Saleh mengatakan, untuk menangani pandemi Covid-19 maka harus ada yang dikorbankan. "Liburan sementara di rumah, ini kan mau menghilangkan Covid, harus ada yang dikorbankan. Nggak bisa semuanya kita dapat," katanya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini