Industri Lokal Merasa Tidak Fair dengan Jumlah dan Cara Impor Baja

Ferdi Rantung, Jurnalis · Jum'at 29 Januari 2021 13:34 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 29 320 2352945 industri-lokal-merasa-tidak-fair-dengan-jumlah-dan-cara-impor-baja-WqXzp5DYRM.jpg Industri Baja Nasional Merasa Diperlakukan Tidak Adil. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Ketua Umum Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA) Silmy Karim mengungkapkan bahwa selama ini industri baja Nasional tidak diperlakukan secara adil. Akibatnya, industri Nasional tidak bisa bersaing dengan produk impor.

"Kita tidak bisa menghindari impor 100%, impor itu perlu ada. Tapi jumlahnya dan caranya itu harus fair," katanya, dalam Market Review IDX Channel, Jumat (29/1/2021).

Baca Juga: RI Banjir Baja Impor China, 100 Ribu Pekerja Terancam PHK

Menurutnya, jika industri Nasional diperlakukan secara fair maka baja Nasional tidak akan kalah dengan impor. Sebab, secara kualitas baja lokal tidak kalah dengan baja impor.

"Kalau terjadi fairness maka baja lokal tidak kalah. Karena yang setiap didengungkan itu kan baja lokal mahal dan itu tidak benar," terangnya.

Baca Juga: Jurus Kemenperin Lindungi Baja Nasional dari Serbuan Impor

Dia menyampaikan, masalah yang sering terjadi dalam market baja adalah unfairness. Khususnya negara yang pengawasannya impornya tidak ketat.

"Kalau kita bicara fair baja impor tidak bisa masuk seenaknya, negara yang pengawasan impornya rendah nah itu menjadi sasaran," jelasnya.

Silmy membeberkan, bahwa impor baja bisa masuk dengan memalsukan kode HS. Dengan sedikit perubahan, maka kode HS itu bisa diisi sehingga bea masuk nol persen.

"Baja itu kan relatif sama kalau dilihat. Dengan sedikit perubahan maka mereka bisa mendapatkan bea masuk nol persen dan ini tidak fair karena yang dilakukan adalah produk dumping atau buangan," tutupnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini