JAKARTA - PT Damai Sejahtera Abadi Tbk (UFOE) resmi melantai di bursa. Emiten di bidang perdagangan elektronik dan furnitur ini langsung melesat hingga 34,7%.
Dari pantauan Okezone, Jakarta, Senin (1/2/2021), pada pukul 9.15 WIB, harga saham UFOE naik 35 poin atau 34,7% ke Rp136.
Baca juga: Saham UFOE Listing di Bursa Hari Ini, Harga yang Ditawarkan Rp101/Lembar
Seperti diketahui, PT Damai Sejahtera Abadi Tbk telah melakukan masa penawaran umum perdana saham pada tanggal 26 Januari 2021 - 27 Januari 2021 lalu. Rencananya akan meraih dana sebanyak Rp 46,2 miliar dengan melepas 457.500.000 saham kepada masyarakat dengan harga penawaran Rp101 per lembar saham.
Perusahaan yang bergerak pada perdagangan ritel produk elektronik dan furnitur rumah tangga itu pada hari ini melakukan pencatatan dan perdagangan perdana saham atau listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode perdagangan UFOE.
Baca juga: BEI Bakal Kedatangan 2 Emiten Baru Besok
Direktur Utama PT Damai Sejahtera Abadi Tbk Poedji Harixon mengatakan jumlah saham yang ditawarkan dalam IPO yakni 457,5 juta saham merupakan 20% dari modal disetor dan ditempatkan Perseroan.
"Pencatatan saham ini merupakan realisasi dari komitmen manajemen untuk Go Public melalui mekanisme perdagangan di BEI. Mulai saat ini PT Damai Sejahtera Abadi Tbk resmi menjadi perusahaan publik dan merupakan Emiten ke-5 yang mencatatkan sahamnya di BEI pada tahun 2021 ini," kata Poedji dalam keterangan tertulis.
Dana hasil IPO ini, setelah dikurangi biaya-biaya emisi, akan digunakan Perseroan untuk investasi penambahan tanah beserta bangunan untuk toko dan gudang di Gresik dan Banjarbaru serta sisanya akan digunakan untuk modal kerja Perseroan.
Dalam aksi korporasi ini, menunjuk Penjamin Pelaksana Emisi Efek yakni PT Investindo Nusantara Sekuritas serta 2 Penjamin Emisi Efek yakni PT Panca Global Sekuritas dan PT Danatama Makmur Sekuritas.
Menurut Direktur Investment Banking PT Investindo Nusantara Sekuritas Anshy M Sutisna yang bertindak selaku Penjamin Pelaksana Emisi Efek, pada Masa Penawaran Umum tercatat sebanyak 1557 investor melakukan pemesanan saham UFOE.
“Dari total pemesanan saham yang masuk, sejumlah 1488 merupakan permintaan yang
berasal dari pooling allotment, sehingga terjadi oversubscribed sebesar 38,05 kali dari jumlah saham yang ditawarkan, yang menyebabkan kelebihan permintaan sebanyak 1,37 kali dari total IPO. Berdasarkan sistem penjatahan yang ditetapkan, 99% adalah alokasi untuk penjatahan pasti (fixed allotment) dan 1% untuk penjatahan terpusat (pooling allotment),” jelasnya.
Berdasarkan data prospektus Perseroan, komposisi pemegang saham Perseroan setelah IPO, yakni PT Damai Sejahtera Lestari Investama (72%), Ir. Pudji Harianto (4,80%), Poedji Harixon (3,20%), dan masyarakat (20%) .
Perseroan memiliki anak perusahaan yakni PT Universal Joyo Lestari yang juga bergerak pada perdagangan ritel produk elektronik dan furnitur rumah tangga.
Direktur Keuangan UFOE Soeliana Tanumihardjo menjelaskan bahwa fundamental Perseroan sangat baik, yang mana Perseroan membukukan penjualan pada periode 6 bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2020 sebesar Rp343,3 miliar, naik 11,40% dibandingkan penjualan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2019.
Peningkatan penjualan elektronik dipengaruhi adanya pandemi Covid-19 yang menyebabkan adanya sistem work from home (WFH), sehingga kebutuhan masyarakat terhadap barang elektronik menjadi meningkat.
Selain itu, terdapat peningkatan laba tahun berjalan Perseroan dan Perusahaan Anak pada periode 6 bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2020 sebesar Rp931,8 juta atau 58,27% dibandingkan dengan periode tanggal 30 Juni 2019. Peningkatan ini disebabkan oleh peningkatan laba kotor sebesar Rp4,3 miliar atau 17,63%. Pada tanggal 30 Juni 2020, Total Aset Perseroan sebesar Rp290,5 miliar dengan total Liabilitas Perseroan sebesar Rp171,6 miliar dan total Ekuitas Perseroan sebesar Rp118,9 miliar.
Dengan pencapaian positif itu, Perseroan berencana untuk membagikan dividen setelah IPO kepada pemegang saham Perseroan dengan besaran dividen yakni sebesar 25% dari laba bersih tahun buku yang bersangkutan, dimulai dari tahun 2021 berdasarkan laba bersih tahun buku 2020.
(Fakhri Rezy)