JAKARTA – Hypefast, pelopor ekosistem ritel berbasis teknologi sekaligus rumah bagi berbagai merek lokal di Indonesia, berencana melaksanakan Penawaran Umum Perdana Saham (IPO). Perusahaan menargetkan aksi korporasi tersebut berlangsung pada pertengahan 2027.
Langkah ini dibarengi dengan peluncuran identitas korporasi baru dan penegasan posisi Hypefast, bukan sekadar sebagai brand aggregator, melainkan sebagai infrastruktur operasional penuh bagi brand lokal.
Founder dan CEO Hypefast, Achmad Alkatiri, mengatakan optimisme perseroan untuk melantai di bursa ditopang oleh fundamental bisnis yang solid. Menurut dia, Hypefast telah bertransformasi menjadi ekosistem ritel terintegrasi dengan kinerja keuangan yang sehat, tercermin dari pencapaian EBITDA positif serta arus kas positif sejak 2024.
"Nilai utama Hypefast ada pada ekosistem yang defensif dan berkonsep agility at scale. Kami memperkuat lini manufaktur mandiri untuk mempercepat speed-to-market dan menjaga margin tetap sehat, sekaligus membangun dominasi distribusi yang kini telah menjangkau lebih dari 10.000 titik penjualan di seluruh Indonesia,” jelasnya, Kamis (22/1/2026).
Dalam merealisasikan rencana IPO, perusahaan juga melakukan peluncuran identitas korporasi baru dan penegasan posisi Hypefast, bukan sekadar sebagai brand aggregator, melainkan sebagai infrastruktur operasional penuh bagi brand lokal.
"Transformasi ini menegaskan evolusi model bisnis Hypefast, dari sekadar menggabungkan brand (aggregator), Hypefast akan beroperasi sebagai mesin penggerak (engine) yang memiliki kontrol penuh—mulai dari manufaktur hingga distribusi ke tangan konsumen," ujarnya.