Februari, Apakah Harga Tahu dan Tempe Turun?

Fadel Prayoga, Jurnalis · Senin 01 Februari 2021 07:38 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 01 320 2354166 februari-apakah-harga-tahu-dan-tempe-turun-D789tAgquK.jpg Kedelai (Okezone)

JAKARTA – Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyatakan stok kedelai hingga saat ini cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional. Kemendag menjamin komodoti tersebut akan selalu tersedia dan industri pengrajin tahu dan tempe akan terus berproduksi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di tengah kenaikan harga kedelai impor.

“Kenaikan harga kedelai di tingkat pengrajin tahu dan tempe tersebut merupakan dampak pergerakan harga kedelai dunia sejak pertengahan tahun lalu hingga sekarang,” kata Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Syailendra dalam keterangan tertulis, Senin (1/2/2021).

 Baca juga: Urusan Gula hingga Kedelai Impor, Jokowi: Padahal Kita Punya Lahan Luas!

Bersumber dari Chicago Board of Trade (CBOT), harga kedelai dunia pada Desember 2020 masih sebesar USD13,12 per bushels untuk penyediaan pada Januari 2021. Pada saat ini, harganya telah naik 4,42% menjadi USD13,7 per bushels untuk penyediaan kedelai pada Februari.

Meski demikian, diharapkan harga kedelai dunia dapat segera terkoreksi menurun pada periode selanjutnya. Menurut dia, saat ini harga kedelai impor di tingkat pengrajin tahu dan tempe secara umum berada dikisaran Rp9.100 per kilogram hingga Rp9.200 per kilogram.

 Baca juga: Ditegur DPR, Importir Kedelai Jangan Hanya Bisa Impor

Adapun harga kedelai impor pada bulan Februari diperkirakan menjadi berkisar Rp9.500/kg di tingkat pengrajin tahu dan tempe.

Selain itu, akan terjadi penyesuaian kembali harga tahu yang sebelumnya Rp600 per potong menjadi Rp650 per potong dan harga tempe yang sebelumnya Rp15.000/kg menjadi berkisar Rp16.000/kg.

Dia menambahkan, terjadi kenaikan harga kedelai dunia yang mencapai 30% pada paruh kedua tahun lalu hingga akhir 2020 berdampak pada penyesuaian harga tahu dan tempe di pasar yang naik menjadi rata-rata 20%.

“Penyesuaian harga tahu dan tempe di pasar merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Sebabnya, mayoritas kebutuhan kedelai Indonesia masih dipenuhi melalui impor dan dipengaruhi pergerakan harga kedelai dunia yang berdampak pada harga bahan baku kedelai untuk tahu dan tempe di Indonesia,” ujarnya.

Selanjutnya, Kemendag akan memantau dan mengevaluasi pergerakan harga kedelai dunia baik ketika terjadi penurunan ataupun kenaikan harga, guna memastikan harga kedelai di tingkat pengrajin tahu dan tempe serta harga tahu dan tempe di pasar masih pada tingkat yang wajar.

Dia mengimbau para importir yang memiliki stok kedelai untuk terus memasok kedelai secara kontinu kepada pengrajin tahu dan tempe anggota Gabungan Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Gakoptindo), baik di

Puskopti provinsi maupun Kopti kabupaten dan kota seluruh Indonesia.

“Diharapkan produksi tahu dan tempe tetap

terus berjalan dan masyarakat masih tetap mendapatkan tahu dan tempe dengan harga terjangkau,” kata Syailendra.

(rzy)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini