Erick Thohir dan Utang BUMN Capai 1.682 Triliun, Cek 6 Faktanya

Alya Ramadhanti, Jurnalis · Sabtu 06 Februari 2021 05:32 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 05 320 2356960 erick-thohir-dan-utang-bumn-capai-1-682-triliun-cek-6-faktanya-AjEtZiK9n3.jpg Utang BUMN Disoroti. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mencatat utang perseroan mencapai Rp1.682 triliun hingga September 2020. Utang tersebut didominasi pinjaman pembiayaan pembangunan infrastruktur.

Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, kondisi pandemi Covid-19 menyebabkan kesulitan keuangan BUMN, sementara di sisi lainnya, konstruksi sejumlah infrastruktur harus terus dijalankan. Hal itu yang membuat utang BUMN meningkat.

Okezone pun telah merangkum fakta-fakta terkait utang BUMN, Sabtu (6/2/2021):

1. Utang BUMN Rp1.682 Triliun

Utang Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mencapai Rp1.682 triliun hingga September 2020. Tren kenaikan utang perseroan terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Pada tahun lalu, kenaikan signifikan terjadi karena BUMN kekurangan dana operasionalnya untuk menggenjot sejumlah program, salah satunya adalah anggaran BUMN Karya untuk pembangunan infrastruktur. Hingga 2020 utang BUMN mencapai Rp1.682 triliun.

"Memang kami sangat diharapkan membangun infrastruktur dasar seperti tol, bandara, pelabuhan membuat secara posisi utang BUMN meningkat mencapai Rp1.682 triliun di bulan sembilan 2020," kata Wakil Menteri (Wamen) BUMN II Kartika Wirjoatmodojo.

2. Daftar BUMN yang Terlilit Utang

Adapun sejumlah utang BUMN yang dihimpun MNC Portal di antaranya, pertama, PT Waskita Karya Tbk (WSKT). Per September 2020, total liabilitas atau utang yang harus dibayarkan WSKT sebesar Rp91,86 triliun, terdiri dari utang jangka pendek Rp38,79 triliun dan utang jangka panjang Rp53,07 triliun.

Kedua, PT Perkebunan Nusantara III (Persero) atau PTPN III, dimana, utang perseroan mencapai Rp45,3 triliun. Sumber utang berasal dari 23 bank sebesar Rp41,2 triliun dan sisanya dalam bentuk surat utang.

Baca Juga: Ada LPI, Utang BUMN Karya Bisa Lunas?

Ketiga, PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI. Sejak 2020, KAI memiliki utang sebesar Rp 15,5 triliun. Utang ini beragam, dari utang Rp 1,5 triliun untuk modal kerja, obligasi senilai Rp 4 triliun, utang jangka panjang Rp 10 triliun.

Keempat, PT Garuda Indonesia (Persero) mencatat total utang perusahan per 1 Juli 2020 mencapai USD2,21 miliar atau setara Rp32 triliun (Rp14.450 per USD). Utang tersebut terdiri dari utang usaha dan pajak senilai USD905 juta dan pinjaman bank sebesar USDp1,313 miliar.

Untuk diketahui, sejak 2020 lalu, Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat, jumlah utang jatuh tempo perusahaan BUMN mencapai Rp 30,35 triliun dari 13 perseroan. Jumlah ini di luar perhitungan MTN, promisory notes, dan juga sukuk (obligasi syariah) korporasi yang juga dicatatkan di KSEI.

Baca Juga: Ingin BUMN Unjuk Gigi di Dunia, Erick Thohir: Persaingan Sangat Terbuka

Dari jumlah itu, obligasi jatuh tempo terbanyak dicatatkan PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau PT SMI senilai Rp 5,796 triliun, disusul PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) Rp 5,372 triliun dan PT Pupuk Indonesia (Persero) senilai Rp 4,086 triliun.

3. Pesan Erick Thohir

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mencatat ada sejumlah skema BUMN restrukturisasi utang dan kreditur. Pemegang saham akan tancap gas untuk mendorong keringanan utang perseroan di awal 2021.

Dalam proses restrukturisasi, ada sejumlah tugas yang diberikan pemegang saham kepada direksi perseroan negara. Di mana, para manajemen diminta untuk meningkatkan pergerakan uang masuk (cash flow) perusahaan.

Kementerian BUMN selaku pemegang saham mayoritas juga menginginkan agar pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA), perlu digenjot manajemen, disamping memperbaiki operational excellence perusahaan.

4. Utang Garuda, Waskita dan Perumnas Segera Direstrukturisasi

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan melakukan restrukturisasi utang sejumlah perseroan pelat merah. Langkah itu untuk meringankan beban keuangan perusahaan di tengah pandemi Covid-19.

Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo menyebut, utang sejumlah BUMN yang akan direstrukturisasi adalah PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, PT Waskita Karya (Persero) Tbk, serta Perum Perumnas. Rencananya keringanan utang akan dilakukan pada 2021.

"Kami akan fokus ke BUMN yang terdampak signifikan dari sisi keuangan, kita tahu BUMN seperti Garuda, Waskita, Perumnas terdampak dan di tahun ini berupaya maksimal melakukan restrukturisasi dengan perbankan," ujar Tiko.

5. Ini Kondisi Keuangan BUMN

Menurut Direktur Riset Core Piter Abdullah, hal yang harus dipahami oleh masyarakat jangan melihat keuangan suatu perusahaan hanya dari satu sisi saja. Akan tetapi perlu ditinjau juga perbandingan antara utang dan juga piutangnya.

Memang menurut Piter, yang menjadi masalah bagi perusahaan BUMN Karya ini ada pada likuiditas. Karena perusahaan konstruksi milik negara ini memiliki kewajiban jangka pendek untuk membayar cicilan. Sementara itu, piutang dari perusahaan tersebut tidak lancar. Karena aset-aset perusahaan yang dimiliki tidak cukup untuk memberikan pemasukan untuk membayar semua cicilan utangnya.

Namun menurut Piter, jika aset-aset seperti jalan tol ini berhasil dijual seluruhnya, utang BUMN Karya bisa ditutup. Bahkan tak hanya menutup utang, angka piutang dari hasil penjualan tersebut juga jauh lebih besar.

6. Ada LPI, Utang BUMN Karya Bisa Lunas

Pembentukan Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau Sovereign Wealth Fund (SWF) menjadi angin segar bagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor konstruksi. Pasalnya, LPI bisa menjadi salah satu wadah bagi perusahaan BUMN Karya untuk menjual asetnya untuk melunasi utang.

Direktur Riset Core Piter Abdullah mengatakan, adanya SWF menjadi titik terang bagi permasalahan likuiditas perusahaan BUMN Karya. Karena perusahaan BUMN Karya bisa menjual asetnya seperti jalan tol ke LPI.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini