JAKARTA – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir terus mendorong peningkatan daya saing dan transparansi di perusahaan BUMN. Salah satu yang direkomendasikan, yaitu dengan melakukan Initial Public Offering (IPO) atau mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Upayanya dalam memajukan BUMN ini disampaikan Erick Thohir dalam IDX Debut untuk PT Bank Syariah Indonesia Tbk. di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis, 4 Februari 2021.
Baca Juga: 12 BUMN Bakal IPO Dinanti Para Investor
“Erick Thohir memastikan, dalam roadmap BUMN 2021-2023, setidaknya akan ada 8-12 BUMN yang akan mencatatkan sahamnya di bursa,” tulis akun Twitter Kementerian BUMN yang dikutip Okezone, Jakarta, Sabtu, (6/2/2021).
Bank Syariah Indonesia berstatus sebagai perusahaan BUMN terbuka dan tercatat sebagai emiten di Bursa Efek Indonesia dengan kode BRIS.
Baca Juga: Daftar Anak Usaha BUMN yang Bakal IPO
“Adapun komposisi pemegang saham Bank Syariah Indonesia terdiri dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) 50,95%, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BNI) 24,91%, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) 17,29%, DPLK BRI - Saham Syariah 2% dan publik 4,4%,” ungkap Kementerian BUMN.
Optimisme di sektor keuangan syariah dan rencana bisnis Bank Syariah Indonesia yang jelas ini dibuktikan dengan melesatnya harga saham perusahaan. Harga saham BRIS pada saat initial public offering (IPO) sebesar Rp510, sedangkan per 3 Februari 2021 harga saham BRIS mencapai Rp2.750 per lembar saham.
“Artinya, harga saham ini naik sekitar 5 kali lipat dibandingkan dengan posisi saat IPO. Selain itu, market cap BRIS pada saat IPO sebesar Rp4,96 triliun. Per 3 Februari 2021, market cap BRIS naik puluhan kali lipat mencapai Rp112,84 triliun,” jelas Kementerian BUMN.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.