Menteri Basuki Sebut Ada 3 Permasalahan Penyediaan Air Bersih

Taufik Fajar, Jurnalis · Kamis 11 Februari 2021 14:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 11 320 2360461 menteri-basuki-sebut-ada-3-permasalahan-penyediaan-air-bersih-76peaRiQx6.jpeg Menteri PUPR Basuki Hadimuljono (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono mengungkapkan ada tiga masalah mengenai penyediaan air bersih di Indonesia. Seperti manajemen hingga pengaturan tarif air.

"Jadi saya identifikasi permasalahan penyediaan air ini, ada tiga. Pertama manajemen untuk air bersih tentang air baku," ujar dia dalam sambutannya Webinar Pola Konsumsi Air Bersih Masyarakat Era Pandemi Covid-19, Kamis (11/2/2021).

Baca Juga: DKI Baru Cukupi 65% Kebutuhan Air Warga

Dia menuturkan, secara hidrologis jumlah air itu tetap. Akan tetapi apabila ada yang kekurangan atau kelebihan air, hal itu disebabkan manajemen pengelolaan airnya yang keliru. Maka diperlukan perbaikan agar air tersebut bisa tetap.

"Apabila ada yang kekeringan dan kebanjiran pasti manajemen airnya yang tidak baik. Dan ada juga dalam kualitas yang baik, tapi kalau sekarang ada yang kualitas yang tidak benar atau yang jelek pasti masalahnya manajemen airnya perlu diperbaiki," ungkap dia.

Baca Juga: Warga Lereng Bromo Kekurangan Air Bersih, Ini Solusi Forkopimka

Kemudian, kata Basuki, waduk-waduk yang airnya warna coklat dikarenakan di hulunya ada kerusakan. Hal ini membuat kualitas air menjadi buruk dan tidak bisa digunakan masyarakat.

"Maka itu, air baku yang hilang, danau menjadi mati. Di mana air baku ini juga menjadi masalah dalam rangka kita penyediaan air bersih," jelasnya.

Dia juga menambahkan permasalahan terkait terkait tarif air. Di mana kebutuhan setiap daerah itu berbeda yang berpengaruh terhadap penyediaan tarif air juga berbeda. Dan setiap daerah bisa menyesuaikan dengan koefisien yang berbeda-beda sesuai dengan tingkat UMR dan lainnya untuk menentukan harga air.

"Tiap daerah-daerah bisa menyesuaikan dengan koefisien yang berbeda-beda sesuai dengan kemahalan tingkat UMR, apapun. Seperti Jakarta pasti berbeda dengan Cianjur. Saya kira dengan demikian mungkin cukup fair," tandas dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini