Neraca Dagang Januari Surplus Ditopang Moncernya Ekspor, Cek 6 Faktanya

Alya Ramadhanti, Jurnalis · Sabtu 20 Februari 2021 06:13 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 19 320 2364909 neraca-dagang-januari-surplus-ditopang-moncernya-ekspor-cek-6-faktanya-4nrCFbgxJl.jpg Kontainer (Shutterstock)

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia selama 2020 mencapai USD2,1 miliar. BPS menyebut angka tersebut menjadi surplus neraca dagang yang tertinggi dalam 9 tahun terakhir atau sejak 2011.

Nilai surplus neraca perdagangan pada Desember 2020 jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun 2019, dimana mengalami defisit USD 3,59 miliar.

Baca juga: Rekor dalam 9 Tahun Terakhir, Surplus Neraca Perdagangan RI USD2,1 Miliar

Neraca perdagangan Indonesia surplus pada Januari 2021. Direktur Eksekutif Next Policy Fithra Faisal mengatakan bahwa angka surplus tidak terlalu mengejutkan karena konsensus sebelumnya berada di kisaran USD1,5 hingga 2 miliar.

"Surplus bulan Januari ini banyak dipicu naiknya ekspor. Naik pertumbuhannya, sehingga ini turning point, karena selama 2020 ekspor impor terkontraksi signifikan," ujar Faisal.

 Baca juga: Neraca Dagang Surplus USD21,7 Miliar, Kadin: Stabilitas di Tengah Resesi

Namun, dia mencatat dari segi impor, terjadinya penurunan. Hal ini menjadi bukti bahwa ekonomi Indonesia belum sepenuhnya pulih.

Terkait hal itu, Okezone telah merangkum sejumlah fakta menarik soal Neraca Perdagangan 2021, Sabtu (20/2/2021).

1. Neraca Perdagangan Januari Surplus USD1,96 Miliar

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2021 surplus sebesar USD1,96 miliar. Rinciannya nilai ekpor pada Januari 2021 mencapai USD15,30 miliar. Sedangkan impor capai USD13,34 miliar

"Posisi ini jauh lebih bagus dibandingkan neraca dagang pada Januari 2020 yang mengalami defisit dan dibandingkan Januari pada tahun 2019," ujar Suhariyanto dalam video virtual, Senin (15/2/2021).

Ekspor pertanian meningkat dan industri meningkat serta tambang dan peforma ekspor kita jauh lebih bagus dibandingkan Januari 2020.

2. Penurunan Impor, Ekonomi Indonesia Belum Pulih

Faisal mengatakan bahwa impor di bulan Januari belum naik karena menggunakan inventori bulan-bulan sebelumnya, sehingga hal ini tidak terlalu mengkhawatirkan. Tercatat pula bahwa Purchasing Managers' Index (PMI) bulan Januari 2021 sudah mulai ekspansi, dan tertinggi selama 6,5 tahun terakhir. Ini melanjutkan reli dari bulan-bulan sebelumnya.

"Kinerja industri kita sudah on the right track. Impor manufaktur bukan karena menurunnya kapasitas atau produksi, tapi karena inventoris saja," pungkas Faisal.

3. Ekspor di Januari Capai USD15,30 Miliar, Naik 12%

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Januari 2021 mencapai USD15,30 miliar. Angka ekspor ini lebih tinggi atau naik 12,24% dibanding ekspor Indonesia per Januari 2020 sebesar USD13,63 miliar (secara year on year/YoY). Sementara, kinerja ekspor bulan Januari 2021 menurun 7,48% dibandingkan Desember 2020.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan penurunan ekspor ini dikarenakan sektor migas dan non migas dibandingkan bulan Desember. Rinciannya, sektor migas turun 13,24% hanya USD0,8 miliar sedangkan sektor non migas turun 7,11% capai USD14,42%.

4. Ekspor Tertinggi dan Terendah

Dia menambahkan ekspor Indonesia terbesar di Thailand. Kendati demikian ekspor Indonesia mengalami penurunan di Amerika Serikat dan China serta Taiwan.

"Kita tertinggi di Thailand namun di Tiongkok ekspor kita turun. Sedangkan total ekspor ke Asean mencapai USD3,05 miliar dan Uni Eropa tembus USD1,17 miliar," tandasnya.

5. Impor Januari Turun 6,49% Jadi USD13,3 Miliar

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor Januari 2021 mencapai USD13,34 miliar. Impor ini turun dibandingkan periode Januari 2020 yang sebesar USD14,27 miliar atau turun 6,49% secara year on year (YoY). Kinerja impor bulan Januari 2021 menurun 7,59 % dibandingkan Desember 2020.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, impor ini terjadi dikarenakan impor migas naik sedangkan non migasnya turun dibandingkan bulan Desember. Rinciannya, sektor migas naik 4,73% hanya USD1,55 miliar sedangkan sektor non migas turun 9% capai USD11,79%.

6. Impor Tertinggi dan Terendah

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, impor Indonesia terbesar di Afrika Selatan. Kendati demikian Impor Indonesia mengalami penurunan di Hong Kong dan Ukraina

"Negara Asean kita impornya USD2,12 miliar sedangkan Uni Eropa itu USD0,75 miliar," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini