Guru honorer di Bandung: 'Ini pengabdiaan saya'
Bergeser ke Kabupaten Bandung, Shinta sudah 10 tahun menjadi guru honorer. Awal bekerja ia mendapat gaji sekitar Rp400 ribu per bulan dan kini mendapat sekitar Rp1 juta per bulan - tergantung lama jam mengajar dengan hitungan Rp85 ribu per jam.
Ibu tiga anak itu harus mencari kerja sampingan - membuat bingkai lukisan kanvas- untuk membiayai kehidupan sehari-hari dan membayar kuliah anak bungsunya di tengah sang suami yang tidak bekerja karena sakit jantung.
"Sebenarnya sih tidak cukup, terlalu rendah, tapi ibu terima apa adanya. Insya Allah, Allah akan memberikan yang terbaik buat ibu," kata Shinta kepada wartawan Yuli Saputra di Bandung.
Shinta memutuskan tetap menjadi guru di tengah minimnya penghargaan karena mencintai pekerjaannya.
"Ibu berhak atau wajib mencerdaskan anak bangsa, walaupun gajinya yang begitu… itulah motivasi Ibu. Ini sebagai pengabdian Ibu," kata Shinta.
Terkait program PPPK, Shinta akan mencoba karena tidak ada pilihan.
"Pemerintah harus membuka mata kepada guru-guru honorer yang kondisinya seperti Ibu yang umurnya sudah menginjak 50 tahun," katanya.
Shinta berharap pemerintah merangkul guru-guru honorer yang sudah mengabdi belasan hingga puluhan tahun. "Satu kebanggan kami guru honorer yang sudah tua itu diangkat menjadi guru PNS," katanya.