Kinerja Perbankan Mengalami Kontraksi di 2020, Efek Restrukturisasi?

Giri Hartomo, Jurnalis · Kamis 25 Februari 2021 17:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 25 320 2368312 kinerja-perbankan-mengalami-kontraksi-di-2020-efek-restrukturisasi-9BsYCDeHvK.jpg Perbankan (Shutterstock)

JAKARTA - Industri perbankan ikut terkena dampak dari pandemi covid-19. Hal ini terlihat dari hampir semua perbankan pada tahun 2020 lalu mengalami kontraksi.

Direktur Utama Bank Syariah Indonesia (BSI) Hery Gunardi mengatakan, dari sisi bottom line atau rugi laba perbankan mengalami kontraksi. Hal ini membuat kondisi perbankan pada tahun 2020 lalu tidak mudah.

 Baca juga: Dirut BSI Sebut Ekonomi RI Masih Bergantung pada Manusia, Maksudnya?

"Di sisi perbankan teman-teman semua 2020 hampir semua bank terkontraksi dari sisi bottom line rugi laba. Ini mengakibatkan tidak mudah bagi semua bank," ujarnya dalam acara rakornas BSI, Kamis (25/2/2021).

Terkontraksinya kinerja perbankan ini tidak terlepas dari program restrukturisasi yang dilakukan yang masuk dalam program penanganan covid-19 dan pemulihan ekonomi. Apalagi jika dilihat dari sisi nominal angkanya cukup besar.

 Baca juga: BI Kecewa, Bank Hanya Turunkan Bunga Deposito tapi Kredit Tidak

Berdasarkan data dari Otoritas Jasa Keuangan, pada tahun lalu angka restrukturisasi yang sudah dilakukan perbankan mencapai Rp971 triliun. Menurut Hery, angka tersebut sangat besar karena hampir menyentuh Rp1.000 triliun.

"Dampak dari restrukturisasi yang masif, restrukturisasi ini besar-besaran kalau kita liat angkanya OJK tahun itu hampir Rp1000 triliun atau Rp971 triliun mendekat ke Rp1000 triliun ini bukan angka yang kecil buat perbankan," jelasnya.

Sementara itu, debitur yang melakukan restrukturisasi juga cukup besar. Di mana angkanya mencapai 7,7 debitur yang sebagian besar pelaku usaha mikro.

"Dan total debiturnya mencapai hampir 7,7 juta. Ini sebagian besar adalah mikro yang kecil," kata Hery.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini