Hati-Hati! Fenomena Pom-Pom dan FOMO Menghantui Investor Saham Pemula

Fakhri Rezy, Jurnalis · Jum'at 26 Februari 2021 15:25 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 26 278 2368884 hati-hati-fenomena-pom-pom-dan-fomo-menghantui-investor-saham-pemula-wTBVpVO5nY.jpg saham (Shutterstock)

JAKARTA - Kenaikan saham Gamestop, perusahan video game, secara signifikan menjadi perbincangan hangat dan menjadi sorotan khusus secara global beberapa waktu lalu. Meroketnya harga saham Gamestop bermula dari pembicaraan para investor retail melalui forum Reddit, ‘WallStreetBets’. Para investor kecil ini bergabung dan saling mengajak satu sama lain untuk melakukan pembeli saham Gamestop secara massal.

Mengutip keterangan pers Grant Thornton, Jakarta, Jumat (26/2/2021), meskipun aksi masif pembelian saham itu membuat harga saham Gamestop melesat, namun kenaikan tersebut memaksa para hedge fundbesar yang memakai saham Gamestop untuk transaksi short selling(jual kosong) merugi.Dalam short selling, investor meminjam saham yang belum dimilikinya dari broker saham, kemudian menjualnya dengan harga tinggi, dan kemudian membelinya kembali dengan harga lebih rendah, dengan tetap mempertahankan selisihnya.

 Baca juga: Jumlah Investor Pasar Modal Naik, Generasi Milenial dan Z Mendominasi

Akan tetapi jika suatu saham tiba-tiba melonjak, maka investor tersebut terpaksa harus membelinya kembali dalam keadaan rugi.Kenaikan harga saham Gamestop disinyalir sebagai fenomena pom-pom saham yang memang sedang ramai terjadi, termasuk di Indonesia baru –baru ini. Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Hasan Fawzi, menilai, bukan tidak mungkin hal itu juga akan terjadi di juga di BEI. Namun, dia menegaskan, jika hal tersebut terjadi seharusnyadilandasi dengan pemahaman yang benar terhadap prospek saham tersebut.

Maraknya Investor Saham Pemula di Indonesia

Pasar modal Indonesiamenunjukkan geliat positif dengan terus bertambahnya investor ditengah pandemi Covid-19.Bursa Efek Indonesia (BEI)mencatat jumlah investor sebanyak 3,9 juta Single Investor Identification (SID) atau melonjak 56% jika dibandingkan dengan posisi di akhir tahun 2019.

 Baca juga: Pahami Risiko Investasi, Sebelum Membeli Saham

Investasi di pasar modal banyak digemari publik saat ini khususnya kaum milenial. Data PT. Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI)juga menunjukkan bahwa demografi investor untuk usia di bawah 30 tahun berjumlah 54,8% dan usia 31-40 tahun berjumlah 22,6%dari total investor pasar modal di Indonesia, dapat dikatakan lebih dari 75% investor pasar modal Indonesia berada pada usia mudaatau produktif.

Grant Thornton Indonesia melihat banyaknya investor baru ini patut menjadi perhatian, terlebih lagi dengan munculnya fenomena pom-pom dimana saham dipompa (pump) agar harganya melejit oleh individu atau kelompoksehingga tampak menggiurkan.Fenomena ini juga bersamaan dengan maraknya influencer yang ikut membicarakan soal investasi saham dengan merekomendasikan saham tertentusehingga semakin meningkatkan antusiasme publikuntuk berinvestasi saham.

Marvin Camangeg, Advisory DirectorGrant Thornton Indonesia mengatakan “Saham tidak jarang dianggap sebagai instrumen investasi yang mampumenghasilkan keuntungan yang relatif tinggi. Namun, sama seperti investasi pada umumnya, potensi keuntungan yang tinggi dari investasi saham juga tentu diikutidengan risiko yang tinggi, fakta ini yang seringkali kurang diperhatikan oleh investor pemula.”

Performa beberapa perusahaan yang sempat mengalami kenaikan harga saham hingga ratusan persen juga mendorong banyaknya investor newbie menjadi merasa FOMO (Fear of Missing Out) dimana mereka akhirnya bertindak impulsifhanya karena takut ketinggalan momentum untuk mendapatkan keuntungan dalam waktu singkat.

Banyak akhirnya investor pemula yang salah kaprah dengan menginvestasikan uang untuk kebutuhan sehari-hari bahkan berutang dengan bunga besar, mereka yang tadinya berharap mendapat keuntungan cepat justru banyak yang berakhir dengan rugi besar.

Akan lebih baik apabila investor pemula belajar dan meningkatkan pemahaman terlebih dahulu sebelum berinvestasi saham. Hal ini dapat dilakukan dengan mengikuti webinar dan workshop tentang pasar modal yang sering diselenggarakan oleh instansi berkaitan ataupun bergabung dengan komunitas pemain saham sehingga para investor pemula bisa langsung mendengarkan dan belajar dari orang –orang yang sudah berpengalaman dalam bermain saham.

“Pelajaran yang dapat dipetikdi siniadalahbahwa pasar sahamdapat di ibaratkan seperti rimba. Kita akan menemukanberbagai jenis hewan. Adahewanyang kuat secara alami karena ukurantubuhnya yang besar, namun ada juga ada hewan yang kuatsemata-mata karena mereka selalu bergerombol dalam jumlah besar. Selain itu sekarang teknologi juga telah mengubah aturanpermainan. Jadi sebelum berinvestasisaham, perlumemahami profil resikoperseorangan, tetap rasionaldan tidak bergantung pada intuisi saja waktupemilihan saham. Selalu mencari bantuan dari para penasihat investasiyang dapat membantu dan memberikan bimbingandalam keputusan berinvestasi.” tutup Marvin.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini