Kelola Cadangan Beras 1,5 Juta Ton Tak Relevan, Dirut Bulog: Itu Keputusan Sementara

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Kamis 25 Maret 2021 22:24 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 25 320 2384183 kelola-cadangan-beras-1-5-juta-ton-tak-relevan-dirut-bulog-itu-keputusan-sementara-YsHybzOYsm.jpg Beras (Foto: Okezone)

JAKARTA - Direktur Perum Bulog Budi Waseso menyatakan, ketentuan minimal cadangan beras pemerintah (CBP) 1 hingga 1,5 juta hanya menjadi keputusan sementara dan tidak bersifat tetap. Di mana, ketentuan tersebut ditetapkan rapat koordinasi terbatas (rakortas) 2018.

Dengan begitu, ketentuan CBP 1 hingga 1,5 juta ton dinilai tidak relevan lagi. Namun, Buwas sapaan akrabnya menilai hal tersebut masih menjadi acuan banyak pihak sehingga penyerapan 1-1,5 juta ton dianggap sebuah keharusan.

"Perlu saya jelaskan, ketentuan Bulog mempunyai CBP 1 sampai 1,5 juta ton, itu adalah keputusan dari rakortas tahun 2018. Keputusan rakortas menjadi keputusan sementara. Bukan keputusan tetap. Karena waktu itu menjelang pemilu, minimal 1 sampai 1,5 juta ton. Ini dipakai sampai sekarang, padahal bansos rastra dan lain-lain tidak ada," ujar Buwas, Kamis (25/3/2021).

Jika ketentuan tersebut masih menjadi acuan, maka ada kemungkinan ada beras yang tidak terserap. Dia mencontohkan, Bulog menyerap 3 juta ton CBP pada 2021. Kemudian ditambah sisa CBP tahun lalu sebesar 800.000 ton. Namun, selama tahun ini penyerapannya hanya sebesar 600.000 ton, berarti sisa CBP sebanyak 2,2 juta ton.

"Siapa yang tanggung jawab? Karena enggak ada kepastiannya penggunaan beras ini," katanya.

Pernyataan mantan Kepala BNN itu sekaligus menjadi kritik bagi rencana Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi yang menginginkan adanya impor beras sebanyak 1 juta ton. Di mana, 500.000 diperuntukkan bagi CBP dan 500.000 lainnya untuk komersil.

"Belum apa-apa kita sudah menyatakan impor, apalagi hal yang paling mendasar soal beras. Stok kita di seluruh Bulog di Indonesia aman. Kita jalani seolah-olah beras kurang, kita takut. Mungkin betul, krisis pangan dunia bisa betul, tapi saya yakin Indonesia tetap kuat. Kenapa? Nanti tanya Menteri Pertanian," kata dia.

Dia menegaskan, perkara pangan tidak melulu soal beras. Namun, ada sejumlah komoditas dasar yang juga menjadi konsumsi dasar masyarakat seperti jagung, singkong, ubi, hingga sagu seakan terlupakan. Padahal, komoditas itu menjadi pangan dasar masyarakat, khususnya di Timur Indonesia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini