Mati Suri, Begini 4 Profil BUMN yang Mau Dibubarkan Erick Thohir

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Rabu 05 Mei 2021 15:43 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 05 320 2406048 mati-suri-begini-4-profil-bumn-yang-mau-dibubarkan-erick-thohir-xYWiDbM7Ym.jpg Kementerian BUMN (Okezone)

2. PT Industri Glas (Persero)

 

 

Bernasib sama dengan Kertas Kraft Aceh, PT Iglas juga masuk daftar BUMN sakit. Erick Thohir pernah melontarkan kalimat bahwa perusahaan 'mati segan hidup tak mau' karena kinerja yang payah dan merugi.

Dari laman website Kementerian BUMN, perseroan bergerak di bidang pembuatan kemasan gelas, khususnya botol untuk memenuhi kebutuhan industri bir, minuman ringan, farmasi, makanan, dan kosmetika, dengan total kapasitas 340 ton per hari atau 78.205 ton per tahun.

Banyak perusahaan yang mempercayakan pembuatan kemasannya dikerjakan oleh BUMN yang berkantor pusat di Segoromadu Gresik ini. Salah satunya Coca-Cola. Hampir separuh pabrik PT Iglas dikerahkan untuk memproduksi botol beling Coca-Cola.

Kendati demikian, Coca-Cola perlahan mengurangi pemesanan botol pada PT Iglas. Hal itu karena perusahaan asal Amerika Serikat ini mulai beralih menggunakan kemasan botol plastik. Perusahaan didirikan sejak 29 Oktober 1956.

3. PT Kertas Leces (Persero)

 

Kertas Leces merupakan pabrik kertas tertua kedua setelah pabrik kertas Padalarang yang dibangun pada masa penjajahan Belanda yakini 1939.

Perseroan mulai beroperasi sejak 1940. Perusahaan pernah menghasilkan kertas 10 ton per hari. Bahkan, perseroan pernah memproduksi kertas 640 ton harinya dan menghasilkan berbagai jenis kertas.

Meski begitu, hantaman krisis moneter 1998 membuat kinerja perusahaan semakin menurun. Kinerja yang kian memburuk membuat pabrik pelat merah berhenti beroperasi pada Mei 2010 lalu. Penghentian juga disebabkan Perusahaan Gas Negara (PGN) menghentikan pasokan gas.

Saat itu pabrik sudah menunggak utang sebesar Rp 41 miliar.

Pabrik mulai beroperasi kembali pada 2012, namun dalam kondisi berbeda seperti masa jaya Leces. Beberapa saat kemudian, PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) memastikan, PT Kertas Leces mengalami pailit atau bangkrut sejak 25 September 2018.

4. PT Merpati Nusantara Airlines (Persero)

 

Merpati Nusantara Airlines (MNA) didirikan pada tahun 1962 dan memiliki pusat operasi di Jakarta. Merpati resmi berhenti beroperasi pada 1 Februari 2014 karena masalah keuangan yang bersumber dari berbagai utang.

Merpati juga sempat terancam pailit sebelum Majelis hakim pengadilan niaga mengabulkan proposal perdamaian dalam sidang Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) PT Merpati Nusantara Airlines dengan kreditur di Pengadilan Negeri Surabaya pada 2018 lalu

Dahlan Iskan, Menteri BUMN 2011-2014, juga bilang rencana likuidasi Merpati dan 29 BUMN lain sudah ada sejak dia menjabat.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini