Kritik Keras Bank Syariah, Yusuf Mansur: Malesin, Jangan Ngegedein Cuan Dulu!

Hafid Fuad, Jurnalis · Kamis 20 Mei 2021 10:49 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 20 320 2412751 yusuf-mansur-kritik-keras-praktik-bank-syariah-indonesia-erK58cP6DM.jpg Perbankan. Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA - Ustadz Yusuf Mansur mendorong perombakan total pada perbankan syariah nasional. Secara lugas dia mengkritisi bank Syariah yang dekat dengannya, agar fokus membangun dan mengedukasi market sebelum mencari keuntungan. Salah satu syaratnya tentu saja biaya pinjaman bank syariah harus lebih murah dari bank konvensional. Khususnya bagi kelas ekonomi lemah juga harus disambut, bukan hanya mencari nasabah besar dan menguntungkan saja.

"Gedein pasar dulu. Jangan ngegedein cuan dulu. Target keuntungan ga usah dibebani tinggi2. Biar bisa bersaing. Dan ayo duduk. Supaya murah gimana. Biar masyarakat dapet halal, syari'i, tapi kompetitif dan menyenangkan," ujar Yusuf dalam postingannya di akun Instagram @yusufmansurnew.

Baca Juga: BSI Raup Laba Bersih Rp742 Miliar dalam 3 Bulan

Poin utama yang ditunggu masyarakat adalah pembiayaan di bank Syariah harus lebih murah dibandingkan bank konvensional. Karena itu Bank BSI yang digadang-gadang menjadi bank syariah kelas dunia dari Indonesia, disebutnya harus bisa menjadi pelopor murahnya pembiayaan dari bank syariah. "Kan udah merger 3 bank. Ga ada alasan buat ga murah dan ga bisa bersaing dengan kompetitor," ujarnya.

Lebih lanjut dia heran dengan pola kerja di bank Syariah yang sangat identik dengan bank konvensional, memasang target keuntungan tinggi. Kemudian bila target tidak tercapai langsung dihukum. Menurutnya seharusnya ada standar penilaian yang berbeda di bank Syariah yang lebih humanis yaitu membangun edukasi dan ikatan dengan masyarakat. Tidak melulu soal cari cuan.

Baca Juga: BSI Salurkan Pembiayaan hingga Rp159,1 Triliun

"Tapi kan bisa diliat pencapaian lainnya. Misalnya, keterlibatan masyarakat jadi jauh lebih banyak. Sebab berkembang jadi jauh lebih menarik. Masyarakat ga naro cuma buntutnya. Naro murah, ambil mahal. Kan ngemalesin," tambahnya.

Selain soal simpanan masyarakat, di sisi lain ada masalah besar lainnya yaitu perbankan syariah tidak menempatkan dananya di Asset Management yang juga syariah. Namun ditempatkan di konvensional yang berlawanan dengan semangat membangun keuangan syariah yang kuat.

"Saya asli lagi nunggu. Dunia syariah mana, yang datang ke Aset Manajemen Syariah yang satu-satunya di Indonesia. Mana? Ini pertanyaan, bukan untuk diperhatikan. Tapi ini saya dkk perjuangkan, agar ada wadah untuk naro dana masyarakat di aset manajemen syariah yang bnr2 syariah," sebutnya.

Secara tegas dia menolak praktik pembodohan masyarakat yang dipancing datang dengan alasan syariah tapi ternyata bank Syariah sendiri tidak taat syariah. Dirinya menggerakkan publik melalui media massa agar kritis dengan praktik bank Syariah tidak tertipu dengan janji manis awalnya saja.

"Coba aja media2 investigasi. Selain ke pembiayaan, Isg ke masyarakat, ditaro di mana itu duit yg katanya syariah? Saya mendorong media2 untuk investigasi, kemana duit masyarakat syariah itu ditaro. Jangan sampe ada pembodohan.

Masyarakat disuruh naro di perbankan syariah, eh tapi duit masyarakat ditaro di mana2 yg bukan syariah," keluhnya.

Soal Asset Management syariah dia juga menantikan intervensi pemerintah untuk menggunakan pendekatan yang syariah. "Dan aset manajemen syariah ini, bakal diserahkan ke pemerintah. Sebentar lagi. Kita tunggu lebih clear lagi nanti. Apa ada? Nafas syariah bener2?," ketusnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini