Share

Pinjol Ilegal Menjamur karena Punya 'Ladang' Rp1.650 Triliun

Ferdi Rantung, Jurnalis · Jum'at 21 Mei 2021 19:17 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 21 320 2413689 pinjol-ilegal-menjamur-karena-punya-ladang-rp1-650-triliun-FzQf3KNVCv.jpg Pinjol (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Terungkap alasan kenapa banyaknya pnjaman online (pinjiol) ilegal di Indonesia. Dalam data Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) disebutkan ada selisih atau gap antara penyediaan kredit dan kebutuhan.

Berdasarkan data terbaru, gap kredit tersebut tercatat sebesar Rp1.650 triliun per tahun. Hal ini membuat banyaknya korban kasus pinjol ilegal yang terjadi di masyarakat.

"Berdasarkan data OJK yang terakhir, ada kebutuhan kredit sebesar Rp2.650 triliun. Sementara dari data Kementerian Keuangan yang baru terisi itu Rp1.000 triliun. Jadi kredit gap-nya semakin lebar sekitar Rp1.650 triliun setahun," kata Direktur Eksekutif AFPI Kuseryansyah dalam diskusi secara virtual, Jumat (21/5/2021)

Baca Juga: Utangnya Dilunasi, Guru TK Ungkap Penyesalan Masuk Jebakan Pinjaman Online 

Dia menjelaskan, kredit gap adalah kapasitas kebutuhan untuk menerima pinjaman tidak terlayani oleh lembaga keuangan yang konvensional. Artinya, antara suplai dan kebutuhan sangat besar selisihnya.

"Jadi kebutuhan pendanaan masyarakat atau perusahaan gap-nya masih tinggi sekali, sehingga ketersediaan pendanaan ini seperti oase di padang pasir. Yang butuh banyak tapi suplai dikit," katanya.

Sementara itu, lanjut Kuseryansyah, kemampuan pinjol yang legal atau terdaftar di OJK, hanya mampu menyalurkan pinjaman sebesar Rp74 triliun. Dari jumlah tersebut, pinjol legal baru bisa memenuhi sekitar 4,48% kebutuhan pembiayaan masyarakat.

"Gap itu sungguh besar karena jika kita bandingkan dari record pinjol legal atau yang terdaftar di OJK, the best rekor kita tahun lalu itu baru Rp74 triliun atau masih sebesar 4,48% dari kebutuhan kredit," ujarnya.

Dia menambahkan, akibat gap kredit yang besar itu membuat peluang bagi pinjol ilegal. Meskipun Satgas Waspada Investasi (SWI) sudah berkali-kali memblokir akses pinjol legal. Faktanya, pinjol ilegal kembali tetap bermunculan.

"Jadi produk apapun yang ada walaupun ilegal pasti diambil oleh masyarakat. Mau bunganya tinggi atau apapun itu masyarakat tidak peduli yang penting kebutuhan terpenuhi," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini