Mantul! Pelepah Pinang Disulap Jadi Styrofoam Ramah Lingkungan

Tim Okezone, Jurnalis · Kamis 03 Juni 2021 11:11 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 03 320 2419387 mantul-pelepah-pinang-disulap-jadi-styrofoam-ramah-lingkungan-DRf53wAB0J.jpg Menparekraf Sandiaga Uno (Foto: Kemenparekraf)

JAKARTA - Pelarangan penggunaan styrofoam sebagai wadah ataupun pembungkus makanan mulai banyak digaungkan karena dianggap sulit terurai dan merusak lingkungan.

Karena hal itu banyak orang yang memulai berkreasi menciptakan wadah atau pembungkus makanan yang ramah lingkungan. Ide kreatif pun ditemukan oleh Rengkuh Banyu Mahandaru pemuda yang berprofesi sebagai product designer kini membuat produk dari pelepah pinang maupun sawit sebagai pengganti styrofoam.

“Kita akan membuat satu terobosan baru yaitu produk-produk yang akan tampil dari hasil kreativitas dan inovasi anak bangsa dan hari ini yang akan kita tampilkan pelepah," kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Kamis (3/6/2021).

Staf Ahli Bidang Inovasi dan Kreativitas Kemenparekraf Joshua Simanjuntak menyebut inovasi dan kreativitas anak bangsa dari yang namanya pelepah. Pelepah ini memang solusi yang Indonesia berikan kepada issue global yaitu sampah, di mana paling banyak itu ialah sampah styrofoam package makanan yang dilihat di sini.

Baca Juga: Covid-19 Memaksa Pelaku Usaha Tingkatkan Keterampilan dan Inovasi Produk

"Styrofoam ini membutuhkan waktu 500 tahun untuk di kompos, dari riset di 18 kota, ternyata kontribusi sampah styrofoam itu mulai dari 0.27 sampai 0.59 ton ke laut di Indonesia sepanjang 2018. Jadi cukup mengkhawatirkan karena mengganggu biodata laut," ungkap dia.

Salah satu solusi ialah menciptakan packaging yang alami seperti yang terbuat dari pelepah pinang, pelepah pinang ini banyak ditemukan di perkebunan sawit dan perkebunan karet di seluruh Indonesia. Jika styrofoam larut sampai 500 tahun, pelepah pinang ini hanya butuh waktu 60 hari dan langsung larut ke tanah serta bisa menjadi kompos.

Baca Juga: Sandiaga Uno: Work From Bali Bisa Angkat Hunian Hotel hingga 30%

“Potensi pertama adalah pelepah pinang, di sana kami melihat bisa menjadi peningkatan ekonomi masyarakat khususnya di area area yang sering terjadi kebakaran hutan ini menjadi tambahan untuk income mereka.” Kata Rengkuh Banyu Mahandaru perwakilan tim pelepah.

Produk ini juga telah didaftarkan hak cipta, yang merupakan aset berupa kekayaan intelektual. Inovasi ini merupakan produk 100 persen karya anak bangsa dan juga menyerap tenaga kerja di komunitas perkebunan kelapa sawit dan perkebunan karet.

Kemudian, dia juga memaparkan beberapa penyebab utama keuangan emiten yang tertekan. Adapun penyebab-penyebab tersebut, yaitu, tidak adanya penghematan biaya operasional, seperti GHA. Tidak adanya informasi mengenai cara dan narasi negosiasi dengan lessor. Tidak adanya evaluasi atau perubahan penerbanganu yang merugi.

"(Catatannya) untuk dieksplorasi lebih lanjut sebagai opsi tambahan agar Indonesia tetap memiliki national flag carrier," tulis dokumen tersebut.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini