3. Terancam Bangkrut
Kementerian BUMN mengakui bahwa Garuda Indonesia tengah kesulitan keuangan bahkan berpotensi gulung tikar atau bangkrut.
Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo menyebut, kegagalan restrukturisasi keuangan Garuda Indonesia terjadi bila kreditur dan lessor Gatuda Indonesia tidak menyetujui skema yang ditawarkan pemegang saham mayoritas
“Memang ada resiko kalau proses restrukturisasi ini kemudian kreditor tidak menyetujui atau akhirnya banyak tuntutan-tuntutan legal terhadap Garuda Indonesia bisa terjadi tidak mencapai kuorum dan akhirnya bisa jadi menuju kebangkrutan. Ini yang kita hindari,” ucapnya.
Kementerian BUMN mencatat, upaya restrukturisasi setidaknya membutuhkan waktu selama 270 hari dengan proses hukum yang panjang dan melelahkan. Selain itu, prosesnya juga akan dilakukan lembaga keuangan global. Lantaran, kreditur Garuda berasal dari investor dan perbankan global.
“Apabila Garuda bisa melakukan restrukturisasi secara massal dengan seluruh lessor dan pemegang sukuk serta melakukan cost reduction, harapannya cost itu menurun 50 persen atau lebih, Garuda bisa survive pasca restrukturisasi,” ujar Kartika.
4. Penyebab Keuangan Garuda Berdarah-darah
Kementerian Badan Usaha Milik Negara mengungkapkan bahwa sebab utama keuangan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, berdara-darah. Salah satunya, persoalan biaya sewa pesawat dari lessor.
Menurut Menteri BUMN, Erick Thohir, dari 36 lessor atau perusahaan penyewa pesawat yang menjadi mitra kerja Garuda Indonesia sebagian lainnya mematok harga tinggi. Selain itu, ada lessor yang terlibat kasus dalam kasus korupsi sebelumnya.
“Ada lessor yang tidak ikutan dengan kasus itu, tetapi pada hari ini kemahalan karena ya kondisi (pandemi). Nah itu yang kita juga harus negosiasi ulang, nah beban terberat saya rasa itu," ujar Erick
5. Bangun Perusahaan Maskapai Baru
Pengamat Penerbangan Suharto Abdul Majid, salah satu strategi penyelamatan Garuda Indonesia yaitu dengan membuka pilihan membangun maskapai penerbangan domestik baru.
Bila nanti dibangun maskapai baru akan terdapat beberapa kondisi yang harus dipersiapkan. Pertama, keuntungan baru akan terlihat di tahun ke lima, armada yang digunakan tidak boleh banyak, dan model bisnisnya harus diperbaiki
"Keempat yaitu perusahaan penerbangan tidak perlu direksi yang pintar-pintar. Tapi yang dibutuhkan mental kerja keras, berdedikasi tinggi, dan bersikap profesional. Biasanya yang pintar suka korupsi," ujarnya
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.