Harga Sapi Bergejolak Jelang Idul Adha, Ini Penyebabnya

Arif Budianto, Jurnalis · Kamis 10 Juni 2021 10:48 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 10 320 2422883 harga-sapi-bergejolak-jelang-idul-adha-ini-penyebabnya-Isl1C2ZXgx.jpg Harga Sapi Jelang Idul Adha (Foto: Okezone.com)

BANDUNG - Harga sapi biasanya mengalami gejolak menjelang Hari Raya Idul Adha. Banyak penyebab terjadinya gejolak harga, salah satunya sistem peternakan di Indonesia yang belum stabil.

Menurut Pengamat Pertanian Asosiasi Ekonomi politik Indonesia (AEPI) Khudori, pemerintah Indonesia mestinya sudah mulai memikirkan sistem perdagangan dan peternakan sapi di Indonesia. Sehingga, suplai dan demand sapi tak hanya mengikuti hukum pasar.

"Sebenarnya, swasembada sapi telah direncanakan sejak jauh hari, namun sampai sejauh ini, tidak ada perkembangan baik. Bahkan, kita lihat kuota impor terus naik," kata dia pada webinar Rantai Pasokan Sapi Menjelang Idul Adha.

Baca Juga: Musim Kemarau Buat Harga Sapi Australia Jatuh

Akibat belum baiknya sistem peternakan, akibatnya Indonesia mengandalkan impor. Kuota impor hampir sama atau stabil setiap tahunnya. Misalnya tahun 2018 60,5% sapi dipenuhi dari dalam negeri, 39% impor. Pada 2019 juga tidak jauh beda, sekitar 62% dalam negeri, sisanya impor.

"Memang yang jadi soal, kebutuhan daging dalam negeri hanya dipenuhi dari peternak kecil rumah tangga. Sementara mereka menjual ketika butuh saja. Ini yang menyebabkan terjadinya gejolak harga, karena mereka tidak bisa memenuhi naiknya permintaan pasar," beber dia.

Baca Juga: Mbah Gareng, Sapi 'Monster' yang Harganya Tembus Rp100 Juta

Harga sapi akan makin parah, ketika tidak bisa memenuhi dengan cara impor. Misalnya Indonesia hanya andalkan Australia, tapi populasi sapi di sana turun akibat banjir dan kebakaran. Tahun 2019 bisa 600 sampai 700 ekor. Tahun lalu hanya 400 sapi bakalan. Kecenderungan penurunan akan berlanjut 2021 ini.

"Di sisi lain, pertumbuhan konsumsi daging sapi di Indonesia 6,4 persen. Sementara pertumbuhan produksi hanya 1,3 persen, jadi konsumsi dan produksi akan semakin melebar. Ini akan terus terjadi," imbuh dia.

Sementara menurut Ketua Umum Komunitas Sapi Indonesia Budiono, salah satu yang menimbulkan gejolak adalah permintaan sapi saat Idul Adha.

Menurut dia, permintaan sapi hidup pada Idul Adha akan sulit dibendung. Karena memang masyarakat membutuhkan sapi untuk hewan kurban. Berbeda dengan Idul Fitri, pemerintah bisa melakukan impor dalam bentuk daging beku, atau daging kerbau.

Akibat tidak seimbangnya suplai dan demand, salah satu yang dikhawatirkan adalah dijualnya sapi betina produktif. Sayangnya akan banyak betina produktif banyak dijual. Misalnya di Jawa Timur, populasi sapi betina produktif tinggal 50%. Hal itu tak lepas dari adanya pedagang yang mengambil untung sesaat.

"Payahnya lagi, semua sapi yang masuk ke Jakarta, semua dipotong. Tapi memang, di sisi lain tak ada industri yang bisa penuhi sapi. Bahkan daerah lain luar Jawa juga ambil sapi dari Jawa. Mestinya pemerintah ada solusi," imbuh dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini