Lonjakan Kasus Covid-19, Pengusaha Ritel: Memprihatinkan

Michelle Natalia, Jurnalis · Rabu 16 Juni 2021 14:27 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 16 320 2426096 lonjakan-kasus-covid-19-pengusaha-ritel-memprihatinkan-fWnaRRvtxb.jpg Peritel Khawatirkan Lonjakan Kasus Covid-19. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Lonjakan kasus Covid-19 menjadi perhatian, utamanya Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia. Pasalnya, dengan meningkatnya kasus positif Covid membuat ketidakpastian usaha.

Dewan Penasehat Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia ( Hippindo) Tutum Rahanta mengatakan, lonjakan kasus Covid berimbas pada penerapan kebijakan work from home dan pembatasan sosial yang kembali diberlakukan. Sementara sektor ritel belum sepenuhnya pulih akibat imbas pandemi Covid-19.

Baca Juga: Berikut 5 Ritel Raksasa Tumbang akibat Covid-19

"Kita (sektor ritel) ini kalau dibilang lagi pemulihan ya pemulihan, tapi pemulihan ini kan masih dibayang-bayangi ketidakpastian. Ini sangat memprihatinkan," ujar Tutum kepada MNC Portal Indonesia di Jakarta, Rabu(16/6/2021).

Pihaknya selaku peritel hanya bisa menyampaikan bahwa para peritel menerapkan protokol yang sangat ketat sesuai yang diizinkan. Jadi, kalau ada kelompok masyarakat yang abai, situasi ini adalah bagian dari konsekuensi sangat nyata, dimana semua pihak harus menanggung beban.

Baca Juga: Karyawan Giant yang Kena PHK Bisa Melamar ke Hero Group

"Saya kira termasuk kami (terkena konsekuensinya) jika nanti diadakan PSBB kembali. Sekali lagi, insentif pemerintah ini bukan menu utama dalam kebutuhan kami," terang Tutum.

Dia menyebutkan, insentif itu seakan-akan menjadi pemanis yang tidak bisa membantu. Hal yang diperlukan para peritel adalah menu utamanya, yakni penanganan kasus Covid-19.

"Tergantung kekuatan beli masyarakat lah, secara lebih luasnya itu. Daya beli dari mana? Dari kepercayaan konsumen, pandemi Covid-19 berkurang dan sudah mulai tertangani, masyarakat tidak takut keluar rumah, dan bisa membelanjakan uang yang selama ini mereka tahan, juga jenis-jenis pekerjaan lain menjadi terbuka," jelas Tutum.

Dia mengatakan, pihak-pihak itulah yang menjadi konsumen peritel. Jika kondisi kembali terkunci, lanjut Tutum, dapat dibayangkan ada kelompok masyarakat yang tidak bekerja meski peritel diizinkan buka toko.

"Percuma saja buka toko tapi pembelinya juga drop. Siklus itu, perputaran itu jika tidak terjadi, itu yang kita takutkan," pungkas Tutum.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini