Berkat TikTok, ByteDance Raup Pendapatan Rp490 Triliun

Hafid Fuad, Jurnalis · Minggu 20 Juni 2021 10:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 20 320 2427961 berkat-tiktok-bytedance-raup-pendapatan-rp490-triliun-tjIaHZUG5U.jpg Berkat TikTok, Pendapatan Bytedance Rp490 Triliun (Foto: Reuters)

JAKARTA - ByteDance, perusahaan asal China yang berada di balik platform TikTok, tercatat sukses melipatgandakan penghasilannya pada tahun 2020.

Sebuah memo internal perusahaan menunjukkan total pendapatan perusahaan melonjak hingga 111% menjadi USD34,3 miliar atau setara Rp490,4 triliun pada tahun 2020.

Angka tersebut semakin menunjukkan popularitas TikTok yang masih berlanjut. Alhasil sebagai dampaknya ByteDance dan beberapa raksasa teknologi China lainnya kini harus menghadapi tekanan yang terus meningkat dari pemerintahan di berbagai negara. Demikian seperti dilansir BBC, Jakarta, Minggu (20/6/2021).

Baca Juga: Biden Cabut Larangan Aplikasi TikTok, WeChat 

ByteDance juga mencetak pendapatan bruto tahun lalu naik 93% menjadi USD19 miliar. Meskipun begitu mereka juga mencatat kerugian bersih sebesar USD45 miliar untuk periode yang sama.

Kerugian bersih ini disebabkan oleh penyesuaian akuntansi atau tidak berhu dengan operasional perusahaan.

Memo itu juga menunjukkan perusahaan ByteDance memiliki sekitar 1,9 miliar pengguna aktif setiap bulan di semua platform hingga Desember tahun lalu.

Juru bicara dari ByteDance sudah memastikan data-data angka tersebut ke BBC.

Tekanan dari gedung putih

 

Popularitas TikTok yang sangat masif menjadikan ByteDance diselidiki oleh berbagai pemerintahan dunia, termasuk di AS dan China.

Pada hari Kamis, Reuters melaporkan sebuah perintah yang ditandatangani oleh Presiden AS Joe Biden di awal bulan ini akan memaksa beberapa aplikasi China. Ini adalah langkah yang lebih keras untuk melindungi data pengguna jika mereka ingin tetap tinggal di pasar AS.

Surat itu datang setelah Presiden Biden mencabut perintah eksekutif dari penggantinya Donald Trump yang melarang aplikasi dari China TikTok dan WeChat di AS.

Larangan itu menghadapi serangkaian tantangan hukum dan tidak pernah berlaku.

Sebaliknya, Departemen Perdagangan AS mengatakan bahwa mereka akan meninjau aplikasi yang dirancang dan dikembangkan oleh pihak-pihak yang berada di "area musuh", seperti China.

Selama pemerintahan sebelumnya, Presiden Trump secara rutin menyerang ByteDance. Dia menuduh TikTok sebagai ancaman bagi keamanan nasional AS.

Sementara para politisi dan pejabat khawatir mengenai data pribadi pengguna yang diteruskan ke pemerintah China. Namun TikTok membantah tuduhan bahwa pihaknya berbagi data pengguna dengan rezim pemerintahan di Beijing.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini