Transformasi, Ekspor Indonesia Bukan Berbentuk Bahan Baku Lagi

Tim Okezone, Jurnalis · Jum'at 25 Juni 2021 22:14 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 25 320 2431083 transformasi-ekspor-indonesia-bukan-berbentuk-bahan-baku-lagi-Fz8hwas5h2.jpg Ekspor RI Bukan Lagi Bahan Baku. (Foto: Okezone.com/Pelindo 2)

JAKARTA - Hilirisasi industri memberikan dampak signifikan pada ekspor Indonesia. Produk hilirisasi pun meningkatkan nilai tambah bahan baku lokal, menambah tenaga kerja dan menghasilkan devisa dari ekspor.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, hilirisasi industri merupakan salah satu program prioritas Presiden Joko Widodo. Diharapkan transformasi ekonomi dari sumber daya alam menjadi industri bernilai tambah.

"Jadi, diharapkan Indonesia tidak lagi menjadi negara pengekspor bahan mentah, tetapi produk jadi atau barang setengah jadi,” kata, Jumat (25/6/2021).

Pada Januari-Mei 2021, sektor industri pengolahan kembali menunjukkan kinerja ekspor yang kian membaik di tengah tekanan pandemi, dengan mencatatkan nilai sebesar USD66,70 miliar atau naik 30,53% dari periode yang sama di tahun 2020. Industri pengolahan memberikan kontribusi paling tinggi, yakni 79,42% dari total ekspor nasional yang menembus USD83,99 miliar selama lima bulan ini.

“Capaian tersebut menunjukkan bahwa ekspor Indonesia didominasi oleh produk hasil pengolahan,” ujarnya.

Besarnya proporsi ekspor produk industri pengolahan sekaligus menggambarkan bahwa telah terjadi pergeseran ekspor Indonesia, dari komoditas primer menjadi produk manufaktur yang bernilai tambah tinggi.

Baca Juga: Produksi dan Ekspor Pala Ditargetkan Naik 3 Kali Lipat

Pada Mei 2021, sektor industri makanan kembali menjadi penyumbang devisa terbesar dari ekspor industri pengolahan non-migas, yaitu sebesar USD3,25 Miliar. Kemudian diikuti oleh sektor logam dasar (USD2,34 Miliar), bahan kimia dan barang dari bahan kimia (USD1,49 Miliar), komputer, barang elektronik, dan optik (USD633,9 Juta), serta kertas dan barang dari kertas (USD580,6 Juta).

“Jika dilihat dari faktor pembentuknya, nilai ekspor sektor industri makanan pada bulan Mei 2021 didominasi oleh komoditas minyak kelapa sawit sebesar USD2,25 miliar, atau memberi kontribusi sebesar 69,13%, naik dibandingkan bulan April 2021 yang mencapai 61,67%,” paparnya.

Terjadi peningkatan kapasitas produksi industri pengolahan kelapa sawit dan turunannya, yaitu produk minyak goreng sawit, lemak padatan pangan, bahan kimia, bahan bakar terbarukan/Biodiesel FAME, dan material canggih substitusi petro-based material.

Baca Juga: Ekspor Naik 30%, Menperin Pacu Hilirisasi Industri

“Tahun 2010, perbandingan rasio ekspor bahan baku dengan produk turunan, yakni 80% : 20%. Sedangkan, pada 2020, perbandingannya menjadi 12% : 88%. Ini merupakan indikator keberhasilan program hilirisasi industri,” ungkap Menperin.

Ekspor bahan baku CPO/CPKO berkurang karena diproses dan diekspor sebagai produk hilir, termasuk bahan baku Biodiesel Program B30.

“Indonesia telah bertransfomasi tidak hanya mengandalkan ekspor komoditas mentah CPO/CPKO, tetapi menjadi pengekspor produk hilir bernilai tambah,” imbuhnya.

Sementara itu, jenis ragam produk hilir yang dihasilkan industri dalam negeri, dari yang semula 126 produk pada tahun 2014, meningkat menjadi 170 produk pada tahun 2020, yang didominasi oleh produk bahan pangan dan bahan kimia dari sumber terbarukan.

Di sisi lain, ekspor perhiasan pada tahun 2020 mencapai USD1,47 miliar. Industri perhiasan emas memiliki nilai ekonomi yang sangat besar bila dilihat dari hulu sampai hilir. Indonesia menduduki peringkat keenam dunia untuk produksi perhiasan emas.

Hilirisasi di sektor ini juga mendukung penyerapan tenaga kerja. Sebagai industri yang padat modal sekaligus padat karya, industri perhiasan emas dapat menyerap sebanyak 21.269 tenaga kerja untuk produksi eksisting sebanyak 47,5 ton.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini