Rights Issue, Adi Sarana Armada Incar Dana Rp720 Miliar

Rabu 07 Juli 2021 13:28 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 07 320 2436881 rights-issue-adi-sarana-armada-incar-dana-rp720-miliar-dMccu2Xapu.jpg Adi Sarana Segera Lakukan Right Issue. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) menggelar aksi korporasi dengan rights issue. Adi juga telah mendapat izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Emiten transportasi dan logistik ini pun menargetkan dana dari penerbitan saham baru dengan hak memesan efek terlebih dahulu atau rights issue sebesar Rp720 miliar.

Presiden Direktur Adi Sarana Armada Prodjo Sunarjanto mengatakan, perseroan menargetkan perolehan dana rights issue sekitar Rp720 miliar. Dana tersebut setelah dikurangi biaya-biaya emisi, sebagian besar yaitu sekitar Rp639,3 miliar akan digunakan untuk melunasi dan membayar sebagian pinjaman bank yang diambil pada 2019 untuk memulai bisnis last mile delivery Anteraja serta akuisisi lelang otomotif PT JBA.

Baca Juga: Lewat BCA, Orang Terkaya Indonesia Modali Rp100 Miliar ke Perusahaan Miliarder TP Rachmat

Kemudian, sebanyak Rp18,52 miliar dana hasil rights issue akan digunakan untuk pengembangan usaha jasa pergudangan Titipaja (e-fulfilment), serta sisanya untuk modal kerja perseroan.

“Kami bersyukur sekali memperoleh pernyataan efektif ini selain tentunya atas kepercayaan dari IFC yang akan menjadi pemegang saham ASSA. Kami akan terus melanjutkan proses transformasi ke arah end-to-end logistic berbasis teknologi sambil memperkuat pilar bisnis lainnya di bidang ekosistem mobilitas dan penjualan kendaraan bekas," ujar Prodjo, dikutip dari Harian Neraca, Rabu (7/7/2021).

Baca Juga: Adi Sarana Incar Pendapatan Rp2 Triliun

Sebagai informasi, Titipaja merupakan inisiatif terbaru ASSA di bidang logistik berupa sharing warehouse untuk membantu penjual dari e-commerce lebih mudah dan efisien dalam melakukan penitipan dan pengiriman barang kepada pelanggan. Kemudian untuk aksi korporasi sendiri, dimana pada saham baru yang ditawarkan ASSA melekat obligasi konversi sebanyak 600 juta unit dengan rasio setiap pemegang 453 saham lama. Artinya, yang terdaftar berhak memperoleh 80 HMETD, di mana setiap 1 HMETD memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli satu unit obligasi konversi dengan harga pelaksanaan sebesar Rp1.200 per unit.

Nantinya, obligasi konversi dari proses HMETD ini akan dapat diperdagangkan dan dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2 tahun setelah tanggal emisi dan bersifat zero-coupon. Jumlah saham apabila obligasi konversi ini dikonversi menjadi saham adalah sebanyak-banyaknya 600 juta saham baru atau setara dengan 15,01% dari total saham setelah pelaksanaan konversi jika tidak terdapat penyesuaian pada harga konversi.

Apabila masih terdapat sisa HMETD yang belum dilaksanakan, maka seluruh obligasi konversi yang tersisa akan diambil oleh International Finance Corporation (IFC) yang merupakan bagian dari grup Bank Dunia.

"Dengan ekosistem yang saling terintegrasi ini, kami yakin akan mampu mengambil peluang pertumbuhan pesat di tengah model bisnis sharing economy berbasis digital yang menjadi tren di masa kini dan mendatang,” kata Prodjo.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini