Bambang Brodjonegoro: SDA Dimiliki RI Menggoda Investor Lokal dan Asing

Antara, Jurnalis · Rabu 04 Agustus 2021 15:42 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 04 320 2450826 bambang-brodjonegoro-sda-dimiliki-ri-menggoda-investor-lokal-dan-asing-krYmZnuhCK.jpg Sumber Daya Alam Indonesia menarik bagi investor (Foto: Antara)

JAKARTA - Indonesia mesti mengubah dasar perekonomiannya dari sumber daya alam (SDA) menjadi berdasar pada inovasi. Mantan Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro mengatakan selamaini SDA yang dimiliki Indonesia mampu menarik investor asing maupun lokal.

Baca Juga:  Ekonomi RI Harus Tumbuh 6% agar Keluar dari Middle Income Trap

"Saya melihat keberadaan natural resources (SDA) kita ini yang menggoda banyak pihak, baik investor dalam negeri maupun luar, dan juga pemerintah untuk memanfaatkan dalam jangka pendek. Itu membuat rasio manufaktur terhadap GDP (pertumbuhan ekonomi) itu turun terus dari mendekati 30% sampai 19%," kata Bambang dilansir dari Antara, Rabu (4/8/2021).

Dia mengatakan masyarakat tidak bisa fokus mengembangkan sektor manufaktur karena tergoda oleh sumber daya alam yang melimpah. Karena itu, keberadaan SDA bisa jadi kutukan dan alih-alih berkah bagi Indonesia.

Baca Juga: Ketua OJK Yakin Ekonomi Indonesia Tumbuh 7% di Kuartal II-2021

"Saya juga amaze melihat daftar bahwa kita termasuk 10 atau 5 produsen terbesar di berbagai komoditas tambang maupun komoditas pertanian, jadi Indonesia tanahnya subur memang bukan hanya cerita. Masalahnya, kita terlalu terbuai dengan kekayaan alam, lupa melakukan sesuatu yaitu inovasi," imbuhnya.

Menurutnya, Indonesia perlu belajar dari Jepang, China, dan Korea Selatan di Asia dan Chili di Amerika Selatan yang berhasil keluar dari perangkap pendapatan menengah (middle income trap).

Ia mengatakan, kemungkinan akan berat bagi Indonesia bersaing di sektor otomotif dan elektronik dengan negara-negara lain. Namun demikian, menurut Bambang, Indonesia memiliki kualitas manufaktur yang mampu menampung relokasi pabrik di kedua sektor tersebut dari China dan Korea Selatan.

Untuk itu, Indonesia perlu mendorong inovasi dan riset agar tidak sekadar menjual SDA bernilai tambah rendah. Setiap komoditas, baik pertanian maupun pertambangan, menurut Bambang, perlu ditingkatkan nilai tambahnya sebelum dijual.

"Misal Indonesia terkenal sebagai eksportir nikel terbesar, kita jangan bangga dengan itu terus menerus. Apa seharusnya kebanggaan itu? Kalau, (kita) jadi salah satu leading produser baterai kendaraan listrik," ucapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini