Share

Darurat! Limbah Medis Covid-19 Harus Segera Diatasi, Ini 4 Faktanya

Shelma Rachmahyanti, Jurnalis · Minggu 08 Agustus 2021 05:18 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 07 320 2452372 darurat-limbah-medis-covid-19-harus-segera-diatasi-ini-4-faktanya-G03FiQD2FZ.jpg Limbah medis covid-19 (Foto: Freepik)

JAKARTA  – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengumumkan ada 18.460 ton limbah medis berbahaya yang berasal dari penangangan Covid-19 di Indonesia hingga 27 Juli 2021.

Menteri KLHK Siti Nurbaya menuturkan, limbah medis berasal dari fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes), Rumah Sakit Darurat (RSD), wisma untuk isolasi/Karantina Mandiri uji deteksi maupun vaksiknasi.

Berikut fakta-fakta limbah medis Covid-19 yang dirangkum Okezone di Jakarta.

Baca Juga: Menko Luhut: Limbah Medis Covid-19 Persoalan Darurat

1. Limbah Beracun dan Berbahaya

Berdasarkan data daerah yang masuk ke KLHK, limbah medis yang dimaksud adalah: infus bekas, masker bekas, pile vaksin (botol kecil vaksin), jarum suntik, face-shield, perban, APD, sarung tangan, alat PCR, antigen, dan alkohol pembersih swab.

"Itulah yang disebut dengan limbah medis beracun dan berbahaya," ujar Siti Nurbaya usai Rapat Terbatas secara virtual, Rabu (28/7/2021).

Baca Juga: Menperin Minta Industri Semen Ikut Kelola Limbah Medis

2. Presiden Meminta agar Limbah Ditangani Secara Intensif dan Sistematis

Presiden Jokowi mengarahkan kementerian terkait untuk menangani limbah virus corona secara intensif dan sistematis. Jokowi mengimbau ada pengamatan terhadap limbah mulai dari rumah sampai pusat-pusat pelayanan, kata Siti mengucapkan arahan presiden.

Sementara menurut data asosiasi rumah sakit, total limbah diperkirakan jauh lebih besar, mencapai 383 ton per hari.

"Jadi arahan dari bapak Presiden tadi agar semua instrumen pengelolaan limbah medis untuk menghancurkan limbah tersebut. Yang infectious harus segera diselesaikan," kata Siti Nurbaya.

3. Pemerintah Bangun Insinerator Pengelolaan Limbah B3 Medis

Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Menko Marves) sekaligus koordinator PPKM, Luhut Binsar Panjaitan mengatakan pemerintah akan secara serius membangun insenerator untuk pengelolaan limbah B3 medis di Indonesia pada masa pandemi Covid-19.

“Sesuai arahan bapak Presiden Jokowi pada rapat kabinet terbatas tanggal 28 Juli lalu untuk secara serius, sistematis dan cepat dalam penanganan lonjakan timbulan limbah medis selama masa pandemi,” kata Luhut melalui pernyataan tertulis yang diterima MNC Portal Indonesia, Rabu (4/8/2021).

4. Pembangunan Insinerator Bekerja Sama dengan Pabrik Semen

Pada rapat tersebut Menteri Luhut menyampaikan, bahwa pada kondisi darurat saat ini akan bekerja sama dengan pabrik semen yang tersebar di berbagai wilayah. Hal tersebut dilakukan untuk dapat membantu pemusnahan limbah B3 medis mengingat tungku pembakaran atau kiln semen bisa mencapai suhu diatas 1.200 derajat celcius.

“Paralel dengan itu, kita akan siapkan insinerator pengolah limbah B3 yang akan ditempatkan di lokasi prioritas, serta mempersiapkan anggaran untuk penanganan limbah B3 medis darurat,” ujar dia.

Adapun beberapa lokasi prioritas untuk penanganan timbulan limbah B3 medis covid-19 ini adalah di rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan, pusat-pusat isolasi terpusat dan tempat-tempat isolasi mandiri.

“Terdapat 15 provinsi yang sampai saat ini belum memiliki jasa pengolah limbah B3 sehingga limbah harus diangkut ke provinsi terdekat yang telah memiliki fasilitas pengolahan. Untuk menjamin kelancaran inisiatif ini, akan diadakan sinkronisasi dan pendetailan data timbulan limbah B3 medis Covid-19 serta jumlah limbah yang belum mampu diolah,” tutur Menteri Luhut.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini