Share

Hidup dari Dana Hibah, Bagaimana Nasib Ekonomi Afghanistan Usai Dikuasai Taliban?

Aditya Pratama, Jurnalis · Minggu 22 Agustus 2021 08:10 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 22 320 2459155 hidup-dari-dana-hibah-bagaimana-nasib-ekonomi-afghanistan-usai-dikuasai-taliban-F5vYFFLVdn.jpg Bagaimana Nasib Ekonomi Afghanistan Usai Dikuasai Taliban? (Foto: AFP/VOA Indonesia)

JAKARTA - Taliban resmi menguasai Afghanistan. Lalu bagaimana nasib ekonomi Afghanistan? Terlebih lagi Dana Moneter Internasional (IMF) batal memberikan dana jumbo setelah Afghanistan dikuasai Taliban.

Sebelum Taliban mengambil alih kekuasaan, menurut Bank Dunia, ekonomi Afghanistan dibentuk dari kerapuhan dan ketergantungan bantuan, di mana 75 persen belanja publik didanai dari hibah.

Dalam Kongres Afghanistan 2020, bantuan tersebut berkurang sekitar 20 persen dari jumlah yang diberikan pada 2016-2020 setelah sejumlah donor utama hanya menjanji bantuan satu tahun di masa depan.

Dengan Taliban yang berkuasa, maka berpotensi mengurangi bantuan asing yang diandalkan negara itu, termasuk dalam bentuk SDR.

Terbaru, Afghanistan dijadwalkan menerima Hak Penarikan Khusus (SDR) dari Dana Moneter Internasional (IMF) pada Senin (23/8/2021) senilai hampir setengah miliar dolar Amerika Serikat (AS). Namun IMF memblokirnya lantaran negara tersebut kini dikuasai Taliban.

Juru bicara IMF Gerry Rice mengatakan, IMF dipandu oleh pandangan masyarakat internasional terkait dengan persetujuan pencairan SDR. Melihat situasi saat ini, maka IMF menangguhkan pinjaman tersebut.

"Saat ini ada ketidakjelasan dalam komunitas internasional mengenai pengakuan pemerintah di Afghanistan, sebagai akibatnya negara tersebut tidak dapat mengakses Hak Penarikan Khusus (SDR) atau sumber daya IMF lainnya," katanya, dikutip dari Aljazeera, Minggu (22/8/2021).

Pada awal pekan ini, sebanyak 18 anggota Kongres AS mendesak Menteri Keuangan Janet Yellen untuk memastikan SDR untuk Afghansitan diblokir lantaran pemerintahan Afghanistan sudah diambil alih Taliban. Ini merupakan salah satu upaya untuk menjaga aset Afghanistan dikuasai Taliban.

Adapun aset yang dimiliki Afghanistan, menurut bank sentral Afghanistan Da Afghanistan Bank (DAB) sebesar 10 miliar dolar AS untuk periode yang berakhir 21 Juni 2021, termasuk 1,3 miliar dolar AS dalam bentuk emas dan 366 miliar dolar AS dalam cadangan kas mata uang asing.

Namun sebagian aset tersebut disimpan di luar negeri, termasuk di AS. Menurut laporan auditor independen, Afghanistan memiliki lebih dari emas senilai 1,3 miliar dolar AS yang disimpan di Federal Reserve Bank of New York pada akhir 2020.

Gubernur DAB Ajmal Ahmady menulis di akun Twitter-nya, aset utama Afghanistan sebesar 7 miliar dolar AS disimpan di Federal Reserve AS, termasuk 1,2 miliar AS dalam bentuk emas.

Saat ini aset tersebut dibekukan. AS mengonfirmasi telah membekukan aset senilai 9,5 miliar dolar AS yang dimiliki DAB di rekening Federal Reserve dan lembaga keuangan Amerika lainnya untuk mencegah Taliban mengaksesnya.

Lebih lanjut Ahmady menuturkan, sebelum Kabul jatuh ke tangan Taliban, AS juga telah menghentikan pengiriman uang dalam dolar AS ke negara itu. Dengan dibekukannya aset Afghanistan, menurutnya, kemungkinan Taliban hanya bisa mengakses aset di negara lain dalam jumlah kecil. Dia memperkirakan dana yang dapat diakses oleh Taliban mungkin 0,1-0,2 persen dari total cadangan internasional Afghanistan.

"Tanpa persetujuan Departemen Keuangan, tidak mungkin ada donor yang akan mendukung pemerintah Taliban," ujarnya.

Adapun aset yang disimpan di Afghansitan, berdasarkan laporan auditor tahun 2020, ada 12,5 juta emas batangan dan koin perak senilai 159.600 dolar AS yang disimpan di brankas bank di dalam Istana Kepresidenan Afghanistan, yang sekarang dikendalikan Taliban. Selain itu, sekitar 362 juta uang tunai dalam mata uang asing, yang hampir semuanya dalam bentuk dolar AS dan ditahan di kantor pusat dan cabang bank serta Istana Kepresidenan.

Di samping itu, Taliban juga memiliki dana namun tidak semuanya didapatkan secara legal. Menurut laporan Dewan Keamanan (DK) PBB yang diterbitkan pada Juli lalu, Taliban kerap mengandalkan kegiatan ilegal untuk mendanai kelompoknya, seperti perdagangan narkoba dan produksi opium, pemerasan, peculikan untuk mendapat tebusan, eksploitasi mineral dan pendapatan dari pengumpulan pajak di sejumlah daerah dalam kendali mereka.

Dari kegiatan tersebut, DK PBB memperkirakan Taliban memiliki pendapatan sekitar 300 juta hingga 1,6 miliar dolar AS per tahun.

"Dukungan keuangan eksternal, termasuk sumbangan dari orang-orang kaya dan jaringan yayasan amal nonpemerintah juga merupakan bagian penting dari pendapatan Taliban," tulis laporan PBB.

Kelompok ini juga berusaha mengeksploitasi kekayaan mineral Afghanistan. PBB melaporkan, sektor pertambangan menyumbang pendapatan ke Taliban sebesar 464 juta dolar AS pada tahun lalu.

Sementara itu, data Asian Development Bank menyebut lebih dari 47 persen penduduk negara itu hidup di bawah garis kemiskinan pada 2020. Sebagian rumah tangga bergantung pada sektor pertanian dengan produktivitas rendah.

Masalah keamanan, korupsi, dan ketidakstabilan politik semuanya telah menghambat pembangunan sektor swasta. Kondisi tersebut membuat Afghanistan berada di peringkat 173 dari 190 negara dengan lingkungan bisnis yang sulit, menurut Survei Doing Business Bank Dunia tahun 2020.

Pengangguran tercatat mencapai 11,7 persen pada 2020 sebelum pemerintahan Taliban berkuasa, sebelum orang-orang mulai melarikan diri dari negara itu dan beberapa wanita diberhentikan dari pekerjaannya.

Dengan berkuasanya Taliban, negara itu diperkirakan akan berada dalam ekonomi yang suram. Ahmady memperkirakan akan terjadi depresiasi mata uang, lonjakan inflasi, dan kenaikan harga pangan.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini