RI Pelan-Pelan Kurangi Utang tapi Pajak Digeber

Anggie Ariesta, Jurnalis · Selasa 24 Agustus 2021 12:59 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 24 320 2460246 ri-pelan-pelan-kurangi-utang-tapi-pajak-digeber-ymXU1Akl1d.jpg Porsi Utang Dikurangi tapi Pajak Digeber (Foto: Okezone)

JAKARTA - Kebijakan fiskal tetap ekspansif pada 2022 guna mendukung percepatan pemulihan sosial-ekonomi sekaligus konsolidatif menyehatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022 dengan penguatan reformasi struktural.

Terlebih saat pandemi, sektor swasta sangat terdampak juga masyarakat yang semua bertumpu pada APBN.

Staf Khusus Menteri Kuangan Bidang Komunikasi Strategis Yustinus Prastowo menuturkan, APBN tentunya punya keterbatasan juga tetapi kebijakan dicoba lebih fleksibel demi konteks siklikal.

"Tantangan kita saat ini adalah bagaimana pemulihan ekonomi segera kita capai agar kita dapat bertumpu pada aktivitas ekonomi yang menghasilkan pendapatan negara yang substain," katanya dalam program Market Review IDX Channel di Jakarta, Selasa (24/8/2021).

Baca Juga: Stafsus Sri Mulyani: Kita Belajar Atasi Covid-19 demi Pemulihan Ekonomi

Yustinus menambahkan, rencana tersebut diharap dapat mengurangi ketergantungan atau selama masa pandemi menambah porsi utang demi menutupi defisit.

"Nah kita akan pelan-pelan secara bertahap menuju pada pengurangan porsi utang untuk kembali pada reformasi penerimaan pajak kita," ujarnya.

Berbicara tantangan, Yustinus mengatakan ada dua yang menjadi fokus dan tantangan domestik lah yang paling besar dampaknya.

"Memang ada dua tantangan, tantangan domestik jadi paling besar karena berkaitan dengan prasyarat utama kesehatan harus ditangani dengan baik sebagai pemulihan ekonomi," tuturnya.

Selain itu, menurut dia, sekarang pemerintah sudah belajar bagaimana menyelesaikan insentif, bagaimana mendukung mendorong sektor yang produktif tetap aman dari Covid-19 dan juga membaca sektor yang tumbuh lebih baik yang muncul di masa pandemi ini untuk bisa diberi dukungan

Kemudian tantangan secara global adalah bagaimana kita melihat negara lain menyelesaikan masalah dan memanfaatkan peluang dari sektor yang tidak berdampak.

"Secara global kita juga punya tantangan, bagaimana negara-negara ada yang sudah lebih cepat pulih ada yang kembali mengalami second wave dan kita sekarang ini kita mendorong bagaimana kita penetrasi manfaatkan opportunity di pasar global tersebut dengan mendukung sektor-sektor yang punya peluang untuk masuk ke sana," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini