JAKARTA - Kebijakan fiskal tetap ekspansif pada 2022 guna mendukung percepatan pemulihan sosial-ekonomi sekaligus konsolidatif menyehatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022 dengan penguatan reformasi struktural.
Terlebih saat pandemi, sektor swasta sangat terdampak juga masyarakat yang semua bertumpu pada APBN.
Staf Khusus Menteri Kuangan Bidang Komunikasi Strategis Yustinus Prastowo menuturkan, APBN tentunya punya keterbatasan juga tetapi kebijakan dicoba lebih fleksibel demi konteks siklikal.
"Tantangan kita saat ini adalah bagaimana pemulihan ekonomi segera kita capai agar kita dapat bertumpu pada aktivitas ekonomi yang menghasilkan pendapatan negara yang substain," katanya dalam program Market Review IDX Channel di Jakarta, Selasa (24/8/2021).
Baca Juga: Stafsus Sri Mulyani: Kita Belajar Atasi Covid-19 demi Pemulihan Ekonomi
Yustinus menambahkan, rencana tersebut diharap dapat mengurangi ketergantungan atau selama masa pandemi menambah porsi utang demi menutupi defisit.
"Nah kita akan pelan-pelan secara bertahap menuju pada pengurangan porsi utang untuk kembali pada reformasi penerimaan pajak kita," ujarnya.