Ekonomi RI Kuartal III Diprediksi Tumbuh 5%, Ekonom: Butuh Waktu

Advenia Elisabeth, Jurnalis · Minggu 26 September 2021 17:07 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 26 320 2477098 ekonomi-ri-kuartal-iii-diprediksi-tumbuh-5-ekonom-butuh-waktu-3VsvH09Dsq.jpg Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III-2021. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani memperkirakan kinerja ekonomi Indonesia pada kuartal III-2021 tumbuh sekira 4% hingga 5%.

Menyikapi prediksi tersebut, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai, pertumbuhan ekonomi kuartal III-2021 hanya mampu berada 3%. Sementara, pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2021 akan naik secara bertahap seiring dengan pelonggaran Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang ditetapkan pemerintah.

Baca Juga: Sri Mulyani Prediksi Ekonomi Indonesia Tumbuh 4%-5% di Kuartal III

“Apakah pertumbuhan ekonomi mampu mencapai 5% secara year on year di kuartal III? Saya melihatnya jika itu pun bisa tumbuh positif mungkin akan di kisaran 3%. Dan secara akhir tahun juga hanya di kisaran 2-3% secara tahunan sepanjang 2021. Jadi masih butuh waktu sampai kembali ke level sebelum pandemi,” ujarnya saat dihubungi MNC Portal Indonesia (MPI), Minggu (26/9/2021).

Dia pun mengaku tak bisa berharap banyak dari periode kuartal III tahun ini. sebab menurutnya, sumber utama pertumbuhan dari konsumsi rumah tangga khususnya sepanjang bulan Agustus mengalami penurunan cukup dalam. Sementara sisanya di bulan September, meskipun ada pelonggaran, kenaikan konsumsinya terjadi secara bertahap.

“Memang sudah mulai ada perubahan dalam hal mobilitas masyarakat ke tempat-tempat perbelanjaan. Tapi hitungannya hal itu masih terbatas karena beberapa daerah masih memberlakukan PPKM yang cukup ketat,” kata Bhima.

Baca Juga: 4 Fakta ADB Turunkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Faktor lain yang mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi nasional, ada dari sisi kepercayaan konsumen yang terpengaruh dari kesempatan kerja. Bhima bilang, jika kesempatan kerjanya belum optimal maka pendapatan masyarakat kelompok menengah yang sebagian besar bekerja sebagai karyawan, juga belum mengalami pemulihan.

Sehingga, lanjut dia, harapannya ada pada sisi ekspor. “Karena di bulan Agustus misalnya, surplus neraca dagangnya sangat tinggi sepanjang sejarah, yakni USD4,74 miliar. Tetapi, perlu dicatat bahwa kinerja ekspor memang meningkat namun juga disertai dengan mulai meningkatnya lagi aktivitas impor. Nah ini juga bisa menekan kedepannya. Di bulan September mungkin surplus perdagangan tidak setinggi bulan Agustus. Sementara, ekspor diprediksi akan mampu menolong, tetapi motor penggerak lainnya juga perlu diperhatikan,” terang Direktur Celios.

Dia memaparkan, misalnya seperti belanja pemerintah. Belanja pemerintah saat ini penyerapannya masih cenderung lambat. Hal itu tercermin dari tindakan Menteri Keuangan, Sri Mulyani yang terus komplain soal serapan anggaran di level daerah yang rendah, serta banyaknya Pemerintah Daerah yang masih memarkir dananya di perbankan.

“Itukan menunjukkan bahwa kualitas serapan anggarannya masih belum bisa diandalkan untuk menjadi penopang pertumbuhan ekonomi di kuartal III,” imbuhnya.

Untuk investasi, Bhima menuturkan bahwa kini ada peningkatan. Namun, menurutnya, investasi ini juga tergantung dari seberapa cepat pemulihan dari sisi konsumsi rumah tangga.

“Jadi ini saling berpengaruh. Walaupun investasinya ada pemulihan, tapi pemulihannya masih parsial dan banyak bergerak di sektor yang berkaitan dengan processing mineral, tambang, nikel, serta sektor yang bergerak di bidang digital,” ucapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini