Sri Mulyani Waspadai Utang AS Rp400 Ribu Triliun Jadi Bencana, Cek 3 Faktanya

Zikra Mulia Irawati, Jurnalis · Senin 04 Oktober 2021 04:11 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 01 320 2479668 sri-mulyani-waspadai-utang-as-rp400-ribu-triliun-jadi-bencana-cek-3-faktanya-zKN4gOD6vc.jpg Menteri Keuangan Sri Mulyani waspadai utang AS (Foto: Antara)

JAKARTA - Utang AS yang mencapai USD28,4 triliun atau setara Rp404.500 triliun membuat Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani waspada. Pasalnya, hal ini bisa saja memengaruhi perekonomian Indonesia.

Tak hanya Indonesia, negara lain pun was-was dengan utang besar Negeri Paman Sam ini. Berikut fakta seputar utang Rp404.500 triliun milik Amerika Serikat yang dirangkum Okezone pada Senin (4/10/2021).

Baca Juga: Yellen: Pemerintah akan Kelabakan jika Pagu Utang Tidak Dinaikkan

1. Bisa Berpengaruh kepada Perekonomian Indonesia

Sri Mulyani mewaspadai debt ceiling alias batas utang menjadi masalah utama yang dihadapi AS. Indonesia tidak boleh lengah karena hal ini bisa saja berdampak terhadap perekonomian Indonesia.

"Di sisi lain beberapa persoalan seperti Evergrande di Tiongkok atau terjadinya pembahasan fiskal debt limit di Amerika Serikat. Ini menjadi faktor yang kita waspadai dan terjadinya kemungkinan tappering moneter di Amerika Serikat dan kita melihat menjaga pemulihan ekonomi domestik. Kita jangan lengah," kata Sri Mulyani dalam video virtual, Rabu (29/9/2021).

Baca Juga: Sri Mulyani Waspada AS Terancam Gagal Bayar Utang Rp400 Ribu Triliun Jadi Bencana

2. Akan Hati-Hati Kelola Utang Indonesia

Sri Mulyani mengungkapkan ia akan mengelola utang Indonesia dengan hati-hati. Hal ini bertujuan agar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2021 menjadi sehat.

"Kita juga mengendalikan kenaikan utang pada APBN kita agar menjadi sehat. Tahun 2022 fokusnya adalah reform struktural dan fiskal dan komitmen kementerian lembaga dan APBN secara baik dan mendoromg reformasi," imbuhnya.

3. Rincian Utang AS

Pemerintah AS membutuhkan tambahan utang untuk berbagai keperluan. Mulai dari membayar gaji aparat pemerintahan, penanggulangan pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19), hingga membayar bunga utang.

AS diharapkan tidak memasuki fase gagal bayar utang alias default. Jika hal itu terjadi, pasar keuangan global bisa saja tertimpa bencana yang serius.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini