Share

2 Perusahaan China Ini Berpotensi Gagal Bayar Utang dan Mau Bangkrut, Waspada Evergrande Jilid II!

Sevilla Nouval Evanda, Jurnalis · Selasa 05 Oktober 2021 19:18 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 05 278 2481765 2-perusahaan-china-ini-berpotensi-gagal-bayar-utang-dan-mau-bangkrut-waspada-evergrande-jilid-ii-z8egWPMARY.jpg 2 Perusahaan China Gagal Bayar Utang

JAKARTA - Perusahaan properti China lainnya terancam gagal bayar utang dan berpotensi bangkrut.

Setelah geger kasus Evergrande gagal bayar utang, kini perusahaan properti China lainnya juga berpotensi yang sama. Perusahaan tersebut adalah Fantasia Holdings dan Sinic Holdings.

Baca Juga: Kisah Bos Evergrande Pernah Jadi Orang Terkaya, Kini di Ujung Kebangkrutan

Lembaga pemeringkat menurunkan rating utang perusahaan tersebut karena risiko dari keuangan arus kas mereka yang tidak sehat.

Di tengah krisis utang Evergrande, tanda-tanda tekanan di pasar properti China tampak meningkat.

Fantasia Holdings Group Co Ltd gagal membayar bunga obligasi sebesar USD 205,7 juta atau setara Rp2,9 triliun yang telah jatuh tempo pada Senin (4/10/2021).

Saham perusahaan tersebut sudah dihentikan sejak 9 September setelah anjlok 60% tahun ini.

Perusahaan pemeringkat kredit, Fitch Ratings pun menurunkan peringkat Fantasia menjadi CCC- dari B karena arus kas perusahaan terhimpit dari sebelumnya. Situasi ini meningkatkan kemungkinan gagal bayar utang secara nyata.

“Kami percaya dengan adanya obligasi ini berarti situasi likuiditas perusahaan bisa lebih ketat dari yang kami perkirakan sebelumnya. Keterlambatan pembayaran juga menimbulkan keraguan tentang kemampuan perusahaan untuk membayar kembali jatuh temponya secara tepat waktu,” tulis Fitch seperti dilansir dari CNBC, Jakarta, Selasa (5/10/2021).

Sementara itu, perusahaan pemeringkat saham dan obligasi S&P Global Ratings menurunkan peringkat satu perusahaan lain, yakni Sinic Holdings, dari "CCC+" menjadi "CC".

Dilansir dari situs S&P, “CCC” berarti perusahaan saat ini rentan dan bergantung pada kondisi bisnis, keuangan, dan ekonomi yang menguntungkan untuk memenuhi komitmen keuangan. Sementara itu, “CC” berarti perusahaan sangat rentan. Meskipun tidak ada default, ini bisa terjadi dalam waktu dekat.

“Kami menurunkan peringkat karena kami yakin Sinic telah mengalami masalah likuiditas yang parah dan kemampuan membayar utangnya hampir hilang,” tulis S&P.

Sementara Sinic berpotensi gagal bayar obligasi USD246 juta yang jatuh tempo pada 18 Oktober. Saham pengembang real estat China itu pun telah dihentikan sejak 20 September lalu.

Melatarbelakangi kasus tersebut, developer real estate terbesar kedua di China, Evergrande, telah menimbulkan kekhawatiran investor soal sektor properti.

Hingga saat ini, Evergrande tidak membayar bunga pada dua obligasi luar negeri dolar AS dan dilaporkan tengah mencari dana tunai untuk membayar pemasok dan investor.

Akhirnya, developer lain pun berebut uang, menandakan tekanan lebih lanjut dalam sektor ini. Pengamat industri khawatir krisis Evergrande menyebabkan penularan yang memukul pertumbuhan ekonomi China. Pasalnya, para analis menyebut sektor real estate di China menyumbang 15% dari Produk Domestik Bruto.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini