Kekurangan Bahan Baku, Industri Sepatu Menjerit

Iqbal Dwi Purnama, Jurnalis · Senin 11 Oktober 2021 13:30 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 11 320 2484458 kekurangan-bahan-baku-industri-sepatu-menjerit-I1PGH1d33D.png Industri Sepatu (Foto: Antara)

JAKARTA - Kelangkaan bahan baku pembuatan sepatu menjadi kendala untuk menembus target ekspor pada tahun ini.

Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) menargetkan ekspor industri sepatu USD5,8 miliar atau setara Rp76,22 triliun hingga akhir 2021. Nilai tersebut naik 10% dari target sebelumnya yang hanya USD4,8 miliar.

Eddy mengatakan kelangkaan bahan baku ini disebabkan oleh kesalahan kebijakan pemerintah, yang mana ketika mengimpor bahan baku dengan menggunakan bapeksta itu, tidak perlu membayar bea masuk, sejauh bahan itu digunakan untuk ekspor

Baca Juga: Melihat Kegiatan di Industri Sepatu yang Terimbas Pandemi Covid-19

Akibatnya tidak ada investor atau investasi bahan baku di Indonesia karena kalau seseorang membeli bahan baku di local, kita diwajibkan untuk membayar PPN 10%.

"Sehingga untuk perusahaan yang ekspor, itu lebih senang impor bahan baku, sejauh dia bisa melaporkan impornya itu untuk tujuan ekspor, Itu lah yang menyebabkan bahan baku di Indonesia itu sangat minim pabriknya," ujarnya dalam Market Review IDX Channel, Jakarta, Senin (11/10/2021).

Eddy menambahkn, selain kurangnya bahan baku di dalam negeri, kretifitas para industri bahan bakan baku ini juga menjadi tantangan dan hambatan untuk kemajuan industri alas kaki.

Eddy mencontohkan seperti bahan baku dari kulit imitasi yang diimpor dari China atau Taiwan. Di sana setiap minggunya pasti ada model-model baru, baik dari sisi warna, patern dan sebagainya.

"Kalau kita minta bahan baku di Indonesia, itu tidak bisa, karena yang diproduksi itu bahan baku yang sejenis, yang tidak ada kreativitasnya dan itu tentu saja membaut buyer juga memilih bahan baku impor dari China," katanya.

Sementara itu, proyeksi pergerakan positif industri sepatu ditunjang dari tren permintaan ekspor yang meningkat serta momentum musim puncak pemasaran pada Natal dan Tahun Baru.

Selain itu, dibukanya kembali proses belajar mengajar di sekolah juga menambah sentimen positif baru untuk kinerja di pasar domestik.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini