Presiden Jokowi Stop Ekspor Bahan Mentah dan Tak Ingin Jadi Tukang Gali Tambang, Ini 4 Faktanya

Zikra Mulia Irawati, Jurnalis · Rabu 13 Oktober 2021 19:10 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 13 320 2485734 presiden-jokowi-stop-ekspor-bahan-mentah-dan-tak-ingin-jadi-tukang-gali-tambang-ini-4-faktanya-9a7b2MAlp4.png Jokowi (Foto: Youtube Setpres)

JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) sayangkan Indonesia masih mengekspor bahan mentah sektor pertambangan.

Jokowi tidak ingin Indonesia hanya menjadi tukang gali dan tukang tambang. Indonesia bisa rugi besar jika kondisi ini terus terjadi.

Jokowi menginginkan adanya hilirisasi sebelum Indonesia mengekspor bahan mentah. Berikut fakta-faktanya yang telah dirangkum oleh Okezone, Jakarta, Rabu (13/10/2021).

Baca Juga: Maju Terus meski Digugat WTO, Presiden Jokowi: Kita Harus Berani Tidak Ekspor Bahan Mentah

 

 

1. Jangan Hanya Ekspor Bahan Mentah

Menurut Jokowi, mengekspor barang mentah memang akan mendatangkan uang untuk negara ini. Namun, yang dibutuhkan Indonesia saat ini adalah nilai tambah dari barang tersebut.

"Tidak bisa lagi kita mengekspor dalam bentuk raw material, dalam bentuk bahan mentah yang tidak memiliki nilai tambah. Kita dapat uang dari itu, iya. Kita dapat income dari situ, iya. Tetapi nilai tambahnya itu yang kita inginkan,” ujarnya kepada peserta Program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XXIII dan Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) LXII Tahun 2021 Lemhannas RI, di Istana Negara.

2. Bisa Rugikan Indonesia

Mengekspor barang mentah bisa merugikan Indonesia lebih banyak. Selain terjual dengan murah, barang tersebut biasanya akan diolah di luar negeri lalu diimpor lagi ke negara ini.

“Tapi kalau kita hanya tukang gali kemudian kita kirim keluar, mereka buat smelter di sana kemudian dijadikan barang setengah jadi atau barang jadi kemudian kembali ke sini kita beli,” papar Jokowi.

3. Stop Jadi Tukang Gali dan Tukang Tangkap

Mengekspor barang mentah secara tidak langsung membuat masyarakat Indonesia hanya sebatas tukang gali dan tukang tangkap. Pola seperti inilah yang harus diubah mulai saat ini.

“Inilah yang sedikit demi sedikit, tahap demi setahap harus mulai kita hilangkan. Enggak boleh lagi kita hanya jadi tukang tangkap ikan. Ndak, harus ada industri pengolahannya di sini,” ujarnya.

4. Kombinasi Kekayaan Alam dan Teknologi

Indonesia memiliki sumber daya alam yang kaya. Hal ini harus didukung dengan industri terkait agar nilai tambah tersebut tercapai. Barang mentah yang diolah itu juga akan menjadi kombinasi antara kekayaan alam dan teknologi.

“Pada saat kita mendapatkan booming kayu hanya tebang, tebang, tebang tapi ga ada industri perkayuan, ga ada industri permebelan. Sehingga nilai tambahnya juga kita kehilangan kesempatan itu. Sekali lagi kita harus menghasilkan produk yang mempunyai nilai tambah tinggi, yang mengkombinasikan antara pemanfaatan kekayaan alam dengan kearifan dengan teknologi yang melestarikan,” katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini