Harga Terlalu Mahal Jadi Hambatan Industri Mobil Listrik di Tanah Air

Iqbal Dwi Purnama, Jurnalis · Jum'at 15 Oktober 2021 17:45 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 15 320 2486982 harga-terlalu-mahal-jadi-hambatan-industri-mobil-listrik-di-tanah-air-t3ez0vA5Dy.jpg Harga mobil listrik mahal jadi hambatan (Foto: Okezone)

JAKARTA – Industri mobil listrik di Indonesia masih mengalami hambatan. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah harga kendaraannya sendiri masih relatif mahal, dan saat ini penetrasinya masih dibawah 1%.

Ketua Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) V, Shodiq Wicaksono menyebutkan, selain harga, infrastruktur charging stasion juga dinilain masih terbatas. Dengan adanya charging stasion yang memadai, menurut Shidiq orang akan merasakan nyaman untuk membeli karena nanti bisa melakukan charging dimanapun.

Baca Juga: Tarif Pengisian Baterai Mobil Listrik di RI Lebih Murah dari Belanda, Ini Daftar Lengkapnya

Selanjutnya adalah kendaraan listrik yang pada umumnya masih di impor dalam keadaan utuh, belum dirakit atau dibuat di Indonesia.

"Memang saat ini kendaraan listriknya masih impor, namun sejalan dengan waktu dan volumeyang meningkat tentunya akan mulai dirakit di Indonesia nantinya," ujar Shidiq, dalam webinar Industri Otomotif Indonesia di Era Elektrifikasi, Jumat (15/10/2021).

Tantangan selanjutnya adalah industri komponen utama baterai masih dalam proses pembangunan diperkirakan baru mulai berproduksi pada tahun 2024.

Baca Juga: Mobil Listrik Buatan RI Bakal Muncul 2 Tahun Lagi

"Memang BEV sudah diperkenalkan, namun seperti kita ketahui komponen utama baterainya masih dalam proses pembangunan dan baru akan berfungsi tahun 2024 sehingga ini menjadi tantangan kita bagaimana mengisi gap antara sekarang sampai 2024," sambungnya.

Selanjutnya menurut Shidiq terkait transisi dari manual transmision ke arah automotive transmision itu penting menurutnya untuk mengedukasi masyarakat terlebih dahulu untuk bisa mengadopsi kendaraan dengan teknologi baru ini.

"Kemudian yang tadi juga telah disinggung, terkati PDB Indonesia yang masih di kisaran 4.000 USD, dan ini menyebabkan daya beli kita di kisaran Rp300 juta, tentunya kita harapkan tiap tahun akan naik, daya beli pun naik, dan kendaraan BEV semakin terjangkau," tambahnya.

Saat ini menurutnya nilai jual kembali mobil listrik masih belum banyak diketahui masyarakat, karena menurut Shidiq orang Indonesia sebelum membeli mobil baru, kadang memikirkan harga jual kembalinya.

"Selanjutnya harga baterainya masih mahal, teknologi disruption, kita harus berusaha mencari yang lebih murah supaya mudah terjangkau dan tentunya menjadi apotable buat semua," pungkasnya.

Shidiq menjelaskan untuk mewujudkan kendaraan BEV ini perlu ada integrasi yang baik secara eco industry, baik aplikasi RnB, industri komponen pendukung serta skala ekonomi.

"Karena kalau kita berbicara bisnis akhirnya semuanya akan kita hitung secara ekonomi, apakah bisa memenuhi BEV (Battery Electric Vehicle) atau Kendaraan Bermotor Listrik, bagaimana prospeknya, dan sebagainya," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini