Laris Selama Pandemi, Ikea Bakal Krisis Pasokan Barang hingga 2022?

Zikra Mulia Irawati, Jurnalis · Jum'at 15 Oktober 2021 13:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 15 470 2486779 laris-selama-pandemi-ikea-bakal-krisis-pasokan-barang-hingga-2022-SUnAZp96m6.jpg Ikea diprediksi kesulitan pasokan barang hingga 2022 (Foto: Okezone)

JAKARTA - Ikea sedang alami krisis pasokan barang. Kondisi ini diperkirakan akan terjadi hingga tahun 2022. Mereka menyebutnya sebagai “badai yang sempurna”.

“Ini adalah badai yang sempurna. Namun, saya berpikir kami tidak sekaget dahulu. Ini adalah new normal untuk kami. Dan ketika hal-hal menjadi stabil, kami telah belajar banyak tentang ketangkasan dan mengendalikan penjualan,” kata James Brodin, CEO Ingka Group yang memiliki sebagian besar Ikea, dikutip dari CNBC pada Jumat (15/10/2021).

Baca Juga: HERO Jual IKEA Sentul City Rp280 Miliar

Brodin mengatakan, tidak ada seorangpun di Ikea yang memprediksi terjadinya hal ini. Kamis kemarin, perusahaan mengumumkan catatan penjualan tahunan. Tercatat banyak pelanggan yang terimbas lockdown menghabiskan lebih banyak untuk rumah mereka jauh dibandingkan sebelum-sebelumnya.

Baca Juga: Gerai Ditutup, Bekas Giant Disulap Jadi IKEA hingga Hero

Untuk menghadapi situasi ini, Ikea akhirnya menerapkan strategi re-steering (mengendalikan ulang) dan re-routing (memetakan ulang). Mereka mengurangi produksi sejumlah produk agar produk yang laris tetap tersedia. Hal ini dikarenakan stok bahan baku yang terbatas.

Sebanyak 70% penjualan Ikea ada di Eropa. Oleh karena itu, mereka berencana membuka satu gudang di Stockholm, Swedia. Saat ini, bangunan masih dalam tahap konstruksi dan berencana untuk buka tahun ini.

Sementara itu, keuntungan Ikea dari seluruh gudang dan penjualan online per akhir Agustus mencapai USD48,7 miliar atau Rp696,4 triliun. Peningkatan jumlah akun di e-commerce bahkan mencapai 73% dan menyumbang 26% penjualan retail.

Pada kesempatan yang berbeda, Ingka melaporkan bahwa penjualan retail melonjank 6% dengan 37,4 miliar euro atau sekitar Rp609,6 triliun (kurs Rp16.300 per euro). Pencapaian ini, menurut Brodin, telah meningkat sebanyak 2% dari sebelum pandemi.

“Minat dunia terhadap (perabotan) rumah kian besar. Tidak ada satu pun tanda-tanda penurunan permintaan di area manapun,” tutur Brodin.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini