Pasar Tanaman Hias Tembus Rp3.000 Triliun, Indonesia Baru Raup Keuntungan 0,01%

Michelle Natalia, Jurnalis · Selasa 19 Oktober 2021 14:36 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 19 320 2488578 pasar-tanaman-hias-tembus-rp3-000-triliun-indonesia-baru-raup-keuntungan-0-01-j40RWi8h0T.jpg Menkop Teten Masduki Ungkap Potensi Tanaman Hias. (Foto: Okezone.com/Kemenkop)

BOGOR - Tanaman hias di Indonesia punya potensi sangat besar. Apalagi global market value atau potensi pasar tanaman hias di dunia mencapai nilai Rp3.000 triliun, lebih tinggi dibandingkan kopi dan teh.

Oleh karena itu, Indonesia mesti mengembangkan potensi tanaman hias dalam negeri. Sebab Indonesia baru memenuhi ceruk pasar dunia sebesar 0,01%.

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki pun meninjau Green House milik Minaqu Indonesia, sekaligus penandatanganan MoU antara Minaqu Home Nature (Minaqu Indonesia) dengan Koperasi Agro Tora Wajasakti (Sukabumi) di Desa Sukamantri, Kecamatan Tamansari, Bogor, Jawa Barat.

Baca Juga: Jadi Hobi Semasa Pandemi, Peneliti Sebut Tanaman Hias Bikin Bahagia

Sebelum kerjasama dengan Koperasi Agro Tora Wajasakti, Minaqu Indonesia sudah bermitra dengan koperasi lainnya yaitu Koperasi Pelita Desa (Ciseeng, Bogor), Koperasi Kowinas (Karawang, Subang, Cianjur, Bali, Lombok, Bangka Belitung, Batam, Yogyakarta, dan Solo), serta Koperasi Produsen Maja Flora (Mojokerto, Jawa Timur).

"Saya sangat mengapresiasi atas apa yang telah dilakukan Minaqu Indonesia sebagai offtaker produk tanaman hias yang telah menggandeng kurang lebih 1.000 petani di Jawa Barat dan telah bermitra dengan 4 koperasi," kata Teten, Selasa (19/10/2021).

Baca Juga: Viral Tanaman Monstera Dijual Rp225 Juta, Belinya Cuma Rp800 Ribu Loh

Para petani, lanjut Teten, harus dikonsolidasi, jangan biarkan mereka hanya menggarap di lahan yang sempit. Lebih baik terkonsolidasi melalui koperasi.

“Kalau sudah ada koperasi, para petani dapat fokus untuk berproduksi di lahan yang juga dikonsolidasikan menjadi skala ekonomi," kata Teten.

Menurut dia, yang berperan menjadi offtaker pertama adalah koperasi sebagai agregator, melakukan pengolahan hasil panen, dan berhadapan dengan pembeli sehingga harga tidak dipermainkan buyer.

"Koperasi sebagai badan usaha yang berbadan hukum juga dapat melakukan kerja sama dengan berbagai pihak. Mulai dari akses terhadap sumber-sumber pembiayaan dan kerja sama dengan Perguruan Tinggi untuk teknologi tepat guna, sampai pada hilirisasi produk (pemasaran) baik secara offline dan online," papar Teten.

Bagi Teten, apa yang dilakukan Minaqu telah mencerminkan terjadinya proses inclusive close loop, di mana telah tercipta sebuah ekosistem terintegrasi dari hulu hingga hilir.

"Minaqu tidak hanya bertindak sebagai offtaker dari hasil produksi petani, namun juga memberikan pendampingan mulai dari pembibitan, proses produksi, hingga pemasarannya untuk pasar ekspor," tukas Teten.

Mengingat masih sangat besarnya peluang permintaan tanaman hias dari mitra luar negeri yang telah bekerja sama dengan Minaqu, Teten berharap koperasi-koperasi lainnya yang telah mengkonsolidasikan lahan anggotanya, juga dapat memanfaatkan peluang ini dan menjalin kemitraan.

Selain itu, Teten juga mendukung pemanfaatan teknologi informasi melalui web based sistem e-commerce platform minaquindonesia.com untuk akselerasi menuju go digital dan go global.

"Sudah sangat tepat sebagai platform yang menjadi gerbang pemasaran global tanaman hias yang selanjutnya akan dikembangkan bagi komoditas agriculture lainnya, yang saat ini sudah dijangkau lebih dari 50 negara di dunia," imbuhnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini