Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Intip Potensi Saham Pertambangan di Tengah Anjloknya Harga Batu Bara

Anggie Ariesta , Jurnalis-Minggu, 07 November 2021 |16:33 WIB
Intip Potensi Saham Pertambangan di Tengah Anjloknya Harga Batu Bara
Dampak Anjloknya Harga Batu Bara pada Emiten Pertambangan. (Foto: Okezone.com/Reuters)
A
A
A

Sementara itu, Konferensi Para Pihak Perubahan Iklim PBB ke-26 (COP26) dengan 190 negara dan organisasi sepakat untuk segera meninggalkan batu bara sebagai bahan bakar. Semua yang terlibat juga berkomitmen untuk menghentikan pembangkit listrik berbasis batu bara dan berhenti membangun pembangkit listrik tenaga uap baru.

Namun janji transisi menuju energi bersih ini menimbulkan perbedaan pendapat yang ada di antara negara-negara kaya yang getol mendorong untuk segera mengakhiri pemakaian bahan bakar fosil peninggalan revolusi industri dan negara-negara berkembang yang lebih miskin yang masih bergantung pada batu bara dan bahan bakar fosil lainnya untuk memenuhi kebutuhan energi mereka.

Dalam pembahasan itu, tidak segera jelas apakah kesepakatan itu juga melibatkan negara-negara seperti China, India, Indonesia dan Turki, yang memiliki banyak rencana pengembangan pembangkit listrik tenaga batu bara baru.

Sejauh ini, sejumlah emiten batu bara telah menyampaikan laporan keuangan hingga kuartal III-2021 dan mencatatkan kenaikan pendapatan. Hal itu salah satunya didorong dengan kenaikan harga batu bara.

PT Harum Energy Tbk (HRUM) mencatatkan pertumbuhan pendapatan tertinggi dari emiten lain. HRUM mencatatkan pendapatan USD205,55 juta atau sekitar Rp2,94 triliun, naik 51 persen yoy 

Disusul PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dengan selisih kenaikan tipis, yaitu 50,84 persen yoy atau Rp19,4 triliun. Di posisi selanjutnya, PT Resource Alam Indonesia Tbk (KKGI) yang mengukuhkan kenaikan pendapatan 40,3 persen yoy, yakni USD80,14 juta atau sekitar Rp1,15 triliun.

Selanjutnya, ada PT United Tractors Tbk (UNTR) yang mencatatkan pendapatan Rp57,8 triliun, naik 24,44 persen yoy. PT Mitrabara Adiperdana Tbk (MBAP) USD198,2 juta atau sekitar Rp2,83 triliun, naik 24,14 persen yoy.

Kemudian PT Dwi Guna Laksana Tbk (DWGL) yang mencatatkan pendapatan Rp 1,62 triliun, naik 31,7 persen yoy. Serta pertumbuhan pendapatan paling kecil dicatatkan oleh PT Exploitasi Energi Indonesia Tbk (CNKO) yakni sebesar Rp 714,6 miliar, naik 0,9 persen yoy.

Sementara yang lain catatkan kenaikan, pendapatan PT Samindo Resources Tbk (MYOH) malah turun 9,14 persen yoy menjadi USD 120,16 juta atau sekitar Rp 1,72 triliun hingga September 2021.

Sejalan dengan kenaikan pendapatan, sejumlah emiten batu bara juga mencatatkan kenaikan laba. Bahkan ada yang berhasil membalikkan posisi dari rugi selama periode sembilan bulan tahun lalu, menjadi untung. 

(Feby Novalius)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement