Share

Intip Potensi Saham Pertambangan di Tengah Anjloknya Harga Batu Bara

Anggie Ariesta, Jurnalis · Minggu 07 November 2021 16:33 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 07 278 2498073 intip-potensi-saham-pertambangan-di-tengah-anjloknya-harga-batu-bara-ONyRQf30tt.jpg Dampak Anjloknya Harga Batu Bara pada Emiten Pertambangan. (Foto: Okezone.com/Reuters)

JAKARTA - Emiten pertambangan diproyeksikan masih mendulang cuan meski harga batu bara turun pekan ini. Meski demikian, emiten pertambangan ternyata terganggu sejumlah regulasi Pemerintah Indonesia yang memberatkan para perusahaan.

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Martha Christina mengatakan, kebutuhan batu bara masih akan tinggi diikuti dengan harga yang memuncak pada musim dingin yakni Januari mendatang.

"Kita lihat kenaikan saham-saham komoditas seperti CPO dan batu bara masih akan berlanjut tapi sudah terbatas," ujar Martha di Jakarta, Minggu (7/11/2021).

Baca Juga: Aksi Window Dressing, Saham Mana yang Jadi Incaran Investor?

Terbatasnya kenaikan ini, lanjut Martha, karena sejumlah regulasi pemerintah yang ingin membatasi kenaikan harga batu bara dengan menetapkan harga jual tertinggi.

"Ancaman itu kebijakan pemerintah, baik dalam negeri maupun kebijakan pemerintah negara tujuan yang mencoba membatasi kenaikan harga komoditas," katanya.

Mengutip data tradingeconomics, harga batu bara GC Newcastle naik di atas USD 150 per metric ton setelah sempat alami aksi jual dari posisi tertinggi USD 269,5 pada 5 Oktober 2021. Harga batu bara naik ke posisi USD 155,40 pada Jumat (5/11/2021).

Berdasarkan data RTI, sejumlah saham emiten batu bara menguat signifikan di awal perdagangan November, antara lain PT Harum Energy Tbk (HRUM) sudah naik 166,78 persen sepanjang 2021, yang melonjak ke posisi Rp 7.950 per saham. Pada 2021, saham HRUM berada di level tertinggi Rp 9.575 dan terendah Rp 2.890 per saham. Total volume perdagangan 1.843.677.520 dengan nilai transaksi Rp 11,2 triliun. Total frekuensi perdagangan 836.21 kali.

Selanjutnya saham PT Adaro Energy Tbk (ADRO) menguat 17,13 persen sepanjang 2021. Saham ADRO ditutup ke posisi Rp 1.675 per saham. Pada 2021, saham ADRO berada di level tertinggi Rp 1.980 dan terendah Rp 1.150 per saham. Total volume perdagangan 22.877.472.690. Nilai transaksi harian Rp 32,2 triliun. Total frekuensi perdagangan 2.570.202 kali.

Baca Juga: 10 Aplikasi Saham Terbaik untuk Pemula

Saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) melambung 61,73 persen sepanjang 2021 ke posisi Rp 22.400 per saham. Saham ITMG berada di level tertinggi Rp 27.750 dan terendah Rp 22.400 per saham. Total volume perdagangan 797.446.337. Nilai transaksi Rp 13,3 triliun dan total frekuensi perdagangan 844.214 kali.

Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) naik tipis 2,78 persen ke posisi Rp 74. Saham BUMI berada di level tertinggi Rp 156 dan terendah Rp 52 per saham. Total volume perdagangan 126.444.642.653. Nilai transaksi Rp 9,9 triliun. Total frekuensi perdagangan 1.504.079 kali.

Sedangkan saham PT Bukit Asam Tbk turun tipis 4,63 persen ke posisi Rp 2.680 per saham. Saham PTBA berada di level tertinggi Rp 3.100 dan terendah Rp 1.995 per saham. Total volume perdagangan 8.518.077.582. Nilai transaksi Rp 21,7 triliun. Total frekuensi perdagangan 1.824.959 kali.

Sementara itu, Konferensi Para Pihak Perubahan Iklim PBB ke-26 (COP26) dengan 190 negara dan organisasi sepakat untuk segera meninggalkan batu bara sebagai bahan bakar. Semua yang terlibat juga berkomitmen untuk menghentikan pembangkit listrik berbasis batu bara dan berhenti membangun pembangkit listrik tenaga uap baru.

Namun janji transisi menuju energi bersih ini menimbulkan perbedaan pendapat yang ada di antara negara-negara kaya yang getol mendorong untuk segera mengakhiri pemakaian bahan bakar fosil peninggalan revolusi industri dan negara-negara berkembang yang lebih miskin yang masih bergantung pada batu bara dan bahan bakar fosil lainnya untuk memenuhi kebutuhan energi mereka.

Dalam pembahasan itu, tidak segera jelas apakah kesepakatan itu juga melibatkan negara-negara seperti China, India, Indonesia dan Turki, yang memiliki banyak rencana pengembangan pembangkit listrik tenaga batu bara baru.

Sejauh ini, sejumlah emiten batu bara telah menyampaikan laporan keuangan hingga kuartal III-2021 dan mencatatkan kenaikan pendapatan. Hal itu salah satunya didorong dengan kenaikan harga batu bara.

PT Harum Energy Tbk (HRUM) mencatatkan pertumbuhan pendapatan tertinggi dari emiten lain. HRUM mencatatkan pendapatan USD205,55 juta atau sekitar Rp2,94 triliun, naik 51 persen yoy 

Disusul PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dengan selisih kenaikan tipis, yaitu 50,84 persen yoy atau Rp19,4 triliun. Di posisi selanjutnya, PT Resource Alam Indonesia Tbk (KKGI) yang mengukuhkan kenaikan pendapatan 40,3 persen yoy, yakni USD80,14 juta atau sekitar Rp1,15 triliun.

Selanjutnya, ada PT United Tractors Tbk (UNTR) yang mencatatkan pendapatan Rp57,8 triliun, naik 24,44 persen yoy. PT Mitrabara Adiperdana Tbk (MBAP) USD198,2 juta atau sekitar Rp2,83 triliun, naik 24,14 persen yoy.

Kemudian PT Dwi Guna Laksana Tbk (DWGL) yang mencatatkan pendapatan Rp 1,62 triliun, naik 31,7 persen yoy. Serta pertumbuhan pendapatan paling kecil dicatatkan oleh PT Exploitasi Energi Indonesia Tbk (CNKO) yakni sebesar Rp 714,6 miliar, naik 0,9 persen yoy.

Sementara yang lain catatkan kenaikan, pendapatan PT Samindo Resources Tbk (MYOH) malah turun 9,14 persen yoy menjadi USD 120,16 juta atau sekitar Rp 1,72 triliun hingga September 2021.

Sejalan dengan kenaikan pendapatan, sejumlah emiten batu bara juga mencatatkan kenaikan laba. Bahkan ada yang berhasil membalikkan posisi dari rugi selama periode sembilan bulan tahun lalu, menjadi untung. 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini