JAKARTA - Harga karet menunjukan tren kenaikan. Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) mencatat harga SIR 20 USD184 cent pernah kg atau naik dibanding 1 Oktober USD172 cent/kg.
Menurut Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Ditjenbun, Dedi Junaedi, penyebab naiknya harga karet karena pemulihan ekonomi di beberapa negara tujuan ekspor utama karet sehingga permintaan meningkat.
"Vietnam sebagai salah satu produsen karet terbesar sempat lock down, konsumen khawatir pasokan akan kurang sehingga mereka berusaha melakukan pembelian lebih besar. Pemicu lainnya adalah naiknya harga minyak bumi," ujarnya, Minggu (14/11/2021).
Baca Juga: DPR Apresiasi Kementan Bantu Petani Dengan Alsintan
Indonesia saat ini sedang memasuki periode La Nina sehingga produksi karet berkurang dan diperkirakan harga akan naik lagi. Apalagi pemulihan ekonomi di negara-negara tujuan ekspor terus berlanjut.
Luas areal karet Indonesia sendiri semakin meningkat tahun 2016 3,639 juta ha, 2017 3,659 juta ha, 2018 3,671 juta ha, 2019 3,676 juta ha dan 2020 (angka sementara) 3,681 juta ha. Sedang produksi turun, tahun 2016 3,358 juta ton, 2017 3,68 juta ton, 2018 3,63 juta ton, 2019 3,301 juta ton, tahun 2020 2,885 juta ton.
Baca Juga: Di Depan DPR, Kementan Jabarkan Program Mitigasi La Nina
Produktivitas juga turun tahun 2016 1.104 kg/ha, 2017 1.250 kg/ha, 2018 1,161 kg/ha, 2019 1.025 kg/ha, 2020 1.018 kg/ha. Kontribusi volume ekspor karet dari total volume ekspor perkebunan tahun 2020 adalah 6%. Sedang dari sisi nilai 12%.
Sementara itu, Direktur Sustainable Natural Rubber Indonesia (SNARPI) Widyantoko Sumarlin menyatakan, permintaan karet dunia menurun pada 2020, terutama setengah tahun pertama terjadi penurunan drastis. Tahun 2019 produksi karet alam 13,8 juta ton sedang konsumsi 13,9 juta ton sedang tahun 2020 produksi 13,6 juta ton konsumsi 12,9 juta ton.
"Dunia dihadapkan pada kondisi kelebihan karet dibandingkan permintaan, harga karet alam tertekan. Waktu itu sampai karet petani tidak dibeli pabrik. Bersamaan waktunya juga ada serangan penyakit gugur daun Pestalotiopsis sehingga produksi menurun," ujarnya.
Petani pun beralih mencari pendapatan lain dan tidak lagi menyadap karet. Menjelang akhir 2020 industri ban mulai pulih. Permintaan karet dunia mendadak naik tetapi pasokan karet dunia menurun. Hal ini menyebabkan harga karet dunia melonjak naik.
Tahun 2021 diperkirakan produksi karet dunia 13,8 juta ton sedang konsumsi 14,1 juta ton. Karet alam di Indonesia juga mengikuti dinamika yang terjadi di dunia. Karena ada time lag dalam reaksi di tingkat kebun rakyat maka saat ini kekurangan bahan baku ditengah permintaan yang naik.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.