Share

Sedih Investasi Pertamina Rp168 Triliun Mandek, Jokowi: Dirut Cerita Saya Bentak

Athika Rahma, MNC Portal · Sabtu 20 November 2021 19:47 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 20 320 2504907 sedih-investasi-pertamina-rp168-triliun-mandek-jokowi-dirut-cerita-saya-bentak-2nAjImz0VH.png Presiden Joko Widodo. (Foto: Okezone.com/Biro Setpres)

JAKARTA - Presiden Joko Widodo mengungkapkan kekesalannya karena proyek pembangunan kilang minyak baru (Grass Root Refinery/GRR) di Tuban sempat mandek.

Dia menilai, Pertamina tidak sigap ketika kerjasama pembangunan proyek ini ditawarkan oleh Rosneft, salah satu perusahaan minyak asal Rusia. Buktinya, realisasi pembangunannya belum mencapai 5%

"Rosneft itu di Tuban ingin investasi. Saya ngerti Rosneft pengennya cepat, tapi kitanya nggak pengen cepat. Ini investasi besar sekali, Rp168 triliun, tapi realisasinya baru Rp5,8 triliun," ujar Jokowi di YouTube Sekretariat Presiden, Sabtu (20/11/2021).

Baca Juga: Di Depan Bos Pertamina, Jokowi: Impor Minyak Kita Terlalu Besar

Sambil menghela nafas, Jokowi menyebutkan deretan alasan mandeknya proyek ini.

"Terakhir alasannya ada aja, minta kereta api lah, minta jalan tol lah, baru berapa persen Rp5 triliun itu, 5% saja nggak ada. Nggak ada masalah kok, memang pemerintah yang harus bangun, nggak ada masalah," ujarnya.

Menurut Jokowi, Pertamina terlalu nyaman menjalankan bisnis yang sudah ada dan tidak mau keluar dari comfort zonenya.

"Problemnya comfort zone, zona nyaman, zona rutinitas itu yang ingin kita hilangkan," jelasnya.

Baca Juga: Dikelola Pertamina, Blok Rokan Setor Pajak Rp607,5 Miliar

Selain kilang GRR Tuban, Jokowi juga menyinggung eksekusi proyek kilang PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI). Dia bilang, proyek tersebut sudah ada sejak dirinya menjabat presiden periode pertama. Namun, pembangunannya belum kunjung selesai.

"Investasinya USD3,8 miliar, juga bertahun-tahun ini belum jalan-jalan juga," pungkasnya.

Baca Juga: 50 Tahun Berkarya, Indomie Konsisten Hidupkan Inspirasi Indomie untuk Negeri

Follow Berita Okezone di Google News

Padahal, jika TPPI selesai dibangun, Indonesia akan memiliki solusi untuk substitusi barang impor.

"Saya ke sana terakhir, Bu Dirut cerita itu saya bentak, karena memang yang diceritain hal yang sama. Saya nggak mau dengar cerita itu lagi, sudah dengar dari cerita sebelumnya," ujarnya.

Dia bilang, sudah terdapat dua tender di proyek tersebut. Namun, hasilnya sama saja.

"Saya selalu memantau perkembangan TPPI. Kita ini pengennya neraca transaksi, perdagangan, berjalan baik, impor nggak banyak. Karena kita bisa produksi sendiri, punya industrinya, mesinnya, bahan bakunya. Tapi nggak kita lakukan, malah impor, itu loh yang saya sedih," ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini