Share

Harga Emas Anjlok 1,2%, Investor Balik ke Aset Berisiko

Antara, Jurnalis · Jum'at 03 Desember 2021 06:27 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 03 320 2511149 harga-emas-anjlok-1-2-investor-balik-ke-aset-berisiko-gaAUdIZUwz.jpg Harga Emas Turun. (Foto: Okezone.com/Reuters)

CHICAGO - Harga emas anjlok pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB) atau menjadi yang terendah sejak pertengahan Oktober. Harga emas turun setelah gagal menemukan ketidakpastian seputar varian virus corona Omicron ketika indeks-indeks utama saham AS menguat.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Februari di divisi Comex New York Exchange anjlok USD21,60 atau 1,2% menjadi USD1.762,70 per ounce. Harga ini terendah untuk kontrak teraktif sejak 12 Oktober.

Baca Juga: Harga Emas Sedikit Menguat Jadi USD1.784/Ounce

Permintaan safe haven awal untuk logam mulia yang disebabkan kekhawatiran atas varian baru Omicron COVID-19 terbukti berumur pendek.

"Ketakutan Omicron agak mereda akhir pekan ini dan itu mengembalikan selera risiko ke pasar," menurut Analis Senior Jim Wyckoff, dikutip dari Antara, Jumat (3/12/2021).

Investor juga memperhatikan tanda-tanda kecenderungan hawkish dalam kebijakan moneter AS yang dapat mengendalikan kenaikan harga konsumen di masa depan.

Baca Juga: Harga Emas Antam Naik Rp4.000 Jadi Rp929.000/Gram

"Pergeseran kebijakan Fed dan pernyataan bahwa ketakutan inflasi akan berkurang telah membuat investor merasa kurang yakin emas akan bullish," kata Jim Wyckoff.

Emas tampaknya mengambil isyarat dari peningkatan spekulasi bahwa kenaikan suku bunga lebih awal diterjemahkan ke dalam peluang kerugian yang lebih tinggi dari memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil -- akan mengekang inflasi di masa depan, meratakan kurva imbal hasil.

Sementara kenaikan di pasar saham mungkin menunjukkan peningkatan selera terhadap risiko, volatilitas lebih lanjut dalam ekuitas, terutama di tengah ketidakpastian yang berkepanjangan atas varian virus corona Omicron.

Meskipun Wall Street rebound didorong oleh saham keuangan, meningkatnya kasus varian virus secara global terus mendorong volatilitas di seluruh pasar.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini