Share

Dirut AP I Keluhkan Bunga Utang Rp1,5 Triliun

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Kamis 09 Desember 2021 10:50 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 09 320 2514288 dirut-ap-i-keluhkan-bunga-utang-rp1-5-triliun-uNvaEl31cl.jpg Angkasa Pura I keluhkan beban bunga utang (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - PT Angkasa Pura I (Persero) atau AP I menyebut beban bunga pinjaman dari sindikasi perbankan dan obligasi sebesar Rp1,54 triliun. Jumlah bunga pinjaman naik signifikan dari bunga sebelumnya yakni di kisaran Rp683 miliar hingga Rp852 miliar.

Adapun total pinjaman atau utang perusahaan melalui sindikasi perbankan dan obligasi sebesar mencapai Rp28 triliun. Direktur Utama Angkasa Pura I, Faik Fahmi menyebut kondisi tersebut membuat beban keuangan perseroan semakin membesar.

Baca Juga: Penjelasan AP II soal Kabar Jual Bandara Kualanamu ke Perusahaan India

"Kenapa beban keuangan ini menjadi lebih besar? Karena memang karena diselesaikannya bandara dan menggunakan pendanaan dari eksternal melalui sindikasi dan obligasi memang muncul beban keuangan dalam bentuk bunga sekitar Rp683 miliar, naik dari Rp852 miliar, lalu jadi Rp1,54 triliun," ujar Faik dalam konferensi pers, dikutip Kamis (9/12/2021).

Baca Juga: Perketat Masuk Bali, Bandara Ngurah Rai Siapkan Barcode Periksa Keaslian Surat Tes Swab PCR

Dia merinci, pinjaman tersebut dialokasikan untuk perbaikan 10 bandar udara (bandara) dari total 15 bandara di bawah pengelolaan perusahaan. Kendati demikian, perseroan mencatatkan kerugian berarti sepanjang pandemi Covid-19. Dimana, kerugian yang dicatatkan per bulannya mencapai Rp200 miliar.

Dari kondisi keuangan tersebut, Faik memperkirakan kerugian yang dicatatkan perusahaan hingga akhir 2021 minus Rp3,24 triliun. Kerugian pun masih dibukukan pada 2022 dengan nilai proyeksi sebesar Rp601 miliar.

Tentu, perkiraan kerugian di tahun depan menurun signifikan dibandingkan dengan kerugian tahun ini. Sikap optimisme itu dibarengi dengan langkah restrukturisasi utang yang tengah digodok manajemen.

"Diproyeksikan tahun depan kami masih akan rugi, tapi kerugian itu sudah jauh lebih menurun dibandingkan kerugian di 2021," kata dia.

Begitu pula pada EBITDA (laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortasi) dari estimasi di 2021 minus Rp297 miliar, diprediksi membaik menjadi positif sebesar Rp1,56 triliun di 2022.

Di sisi pendapatan, AP I memperkirakan di tahun depan bisa mencapai Rp4,86 triliun, naik dari estimasi di 2021 yang sebesar Rp3,20 triliun. Beban operasional pun diperkirakan turun menjadi Rp2,46 triliun di 2022 dari estimasi di 2021 sebesar Rp6,44 triliun.

"Dengan upaya yang kita lakukan, kami sudah menyiapkan inisiatif penyehatan perusahaan melalui program restrukturisasi yang akan kita lakukan," tutur Faik.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini