Share

Ngopi Cantik ala Sri Mulyani Jelang Pertemuan Presidensi G20

Michelle Natalia, Jurnalis · Jum'at 10 Desember 2021 13:44 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 10 320 2514964 ngopi-cantik-ala-sri-mulyani-jelang-pertemuan-presidensi-g20-sZMi49wlI4.png Menteri Keuangan Sri Mulyani Ngopi di Selas Kick Off Seminat Presidensi G20. (Foto: Okezone.com/Instagram)

BALI - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyempatkan menyeruput seduhan kopi Indonesia di sela rangkaian kegiatan Kick-Off Seminar High Level Discussion on the Presidency G20 Indonesia di Nusa Dua, Bali.

Dia mengatakan, banyak varian biji kopi khas Indonesia yang menjadi incaran para penikmat kopi dari seluruh belahan dunia.

Baca Juga: Pertemuan Sherpa G20, Indonesia Ajak Dunia Capai Pemulihan Ekonomi Berkelanjutan

"Sungguh diberkati sekali tanah Indonesia ini, bukan?" ujar Sri dikutip dari akun Instagram resminya @smindrawati pada Jumat(10/12/2021).

Menurutnya, menikmati kopi merupakan jeda yang menyenangkan sambil berbincang santai dengan Perry Warjiyo selaku Gubernur Bank Indonesia (BI) sebelum meneruskan ke agenda-agenda berikutnya pada G20.

"Kopi jenis apa yang kamu suka?," tutupnya.

Baca Juga: Pandemi Covid-19 Belum Usai, Sri Mulyani Khawatirkan Pemulihan Ekonomi Global

Sebagai informasi, Indonesia mengusung tema “Recover Together Recover Stronger” dalam Presidensi G20 tahun 2022. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyatakan tema tersebut sangat ambisius dan menantang, mengingat pemulihan ekonomi akibat Covid-19 belum merata di semua negara. Terlebih kerangka kebijakan yang akan dibahas dalam forum G20 tidak hanya akan berpengaruh bagi negara anggota melainkan juga negara lain.

“Jadi ini akan diterjemahkan dalam agenda finance track dimana kita akan memproyeksikan masalah atau lingkungan pada tahun 2022 yang akan sangat menantang,” ungkap Sri Mulyani.

Terdapat enam agenda prioritas yang diangkat dalam agenda finance track Presidensi G20 Indonesia. Pertama, exit strategi untuk mendukung pemulihan. Menkeu menyadari semua negara tidak terkecuali melakukan kebijakan yang luar biasa untuk menyelamatkan perekonomian, menyelamatkan masyarakat dari pandemi, dan melakukan countercyclical baik pada fiskal, moneter, dan regulasi keuangan.

“Pertanyaannya, berapa lama kebijakan countercyclical ini harus dipertahankan, bagaimana kita akan keluar, dan bagaimana kita akan merancang exit policy yang aman, lancer, dan adil untuk pemulihan ekonomi global,” ungkap Sri.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini