Share

Krisis Ekonomi Turki, Milenial Pilih Hijrah ke Eropa hingga Minta Kehidupan Layak

Kamis 06 Januari 2022 07:23 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 06 320 2528082 krisis-ekonomi-turki-milenial-pilih-hijrah-ke-eropa-hingga-minta-kehidupan-layak-xbvudRzDZ1.jpg

JAKARTA - Ekonomi Turki bergejolak dengan inflasi yang capai tingkat tertinggi dalam 19 tahun hingga anjloknya lira Turki.

Keluarga berpenghasilan rendah pun merasa semakin sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ini juga dirasakan kelompok kelas menengah Turki.

'Saya ingin keamanan' banyak disampaikan masyarakat Turki di akun media sosialnya. Warga Turki juga membahas keuntungan dan kerugian mencari kehidupan baru di luar negeri.

Keluhan pun disampaikan Seorang Mahasiswa S3, Berna Akdeniz. Berna sedang mengejar titel PhD dalam bidang jurnalisme di Ankara.

Baca Juga: Erdogan ke Rakyat Turki: Menabung Lira, Jangan Mata Uang Asing

"Saya ingin tinggal di sini karena ini kampung halaman saya. Tapi saya juga ingin pergi dari sini karena saya mendambakan kehidupan layaknya seorang manusia," ujarnya, dilansir dari BBC Indonesia, Kamis (6/1/2022).

Berna merupakan seorang tuna rungu. Dia bergantung pada alat bantu dengar berupa implan koklea. Ini adalah perangkat elektronik yang memungkinkan orang tuli untuk mendengar suara.

Namun kelangkaan peralatan medis impor yang baru-baru ini terjadi membuatnya cemas tidak dapat mendengar lagi.

"Pemasok koklea telah mengumumkan bahwa mulai Januari dan seterusnya mereka tidak lagi dapat mengimpor produk karena inflasi tinggi dan nilai tukar lira memakan keuntungan mereka," kata Berna.

"Jadi mereka akan bernegosiasi dengan pemerintah agar mendukung bisnis mereka. Bagaimana jika mereka tidak mencapai kesepakatan? Hanya memikirkan kemungkinan itu saja sudah membuat saya takut," ujarnya.

Baca Juga: Inflasi Turki Tertinggi 19 Tahun, Erdogan 'Ogah' Naikkan Suku Bunga: Saya Jalankan Agama Kami

Berna belum mengambil keputusan, tapi dia tergoda untuk pindah ke Eropa. Dukungan negara terhadap penyandang tunarungu adalah faktor utama yang mendorongnya.

"Saya ingin keamanan. Saya ingin jaminan dalam hidup bahwa saya akan dapat mendengar," ujarnya.

Berna adalah satu dari banyak orang muda berpendidikan dari kelas menengah perkotaan di Turki yang mempertimbangkan kehidupan baru di luar negeri.

Mereka memiliki latar belakang yang sangat berbeda dengan imigran Turki pada dekade sebelumnya. Pada masa sebelum ini, orang-orang Turki hijrah ke luar negeri dari pedesaan yang memberi mereka sedikit peluang meraih pendidikan.

Sementara itu, Lulusan Perguruan Tinggi Harun Yaman, mengatakan telah memutuskan pergi ke Eropa. Targetnya adalah memulai kehidupan baru di Irlandia.

Sejak lulus pada 2018, Harun berjuang mencari pekerjaan sesuai bidang studinya. Saat ini dia bekerja di depo sebuah perusahaan tekstil.

Harun berharap bisa menetap di Irlandia melalui program 'Bekerja dan Belajar' pemerintah setempat.

"Saya tidak melihat harapan atau cahaya apa pun untuk masa depan di Turki. Itulah mengapa saya ingin pergi," ujarnya.

Ada biaya yang harus dibayar untuk mendaftar program itu di Irlandia. Harun telah membayar sebagian ongkos itu.

Namun penurunan tajam nilai lira Turki mengganggu rencananya. Sekarang dia membutuhkan lebih banyak waktu untuk menabung dan melunasi biaya dalam mata uang euro.

"Saya tidak memiliki kehidupan sosial di Turki. Saya bekerja lebih dari 10 jam sehari," ujarnya.

"Krisis mata uang mengurangi daya beli kami. Kami memiliki begitu banyak masalah. Kebijakan keliru pemerintah memicu kemiskinan pada banyak orang dan menyebabkan perpecahan di masyarakat," kata Harun.

Lebih dari 70% warga Turki memimpikan kehidupan di luar negeri. Menurut data resmi, kebanyakan orang yang meninggalkan Turki berusia antara 25 dan 29 tahun.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini